Friday, September 12, 2008

Promises Made

Yesterday's goals, dim memories.

Dark saddened eyes, blurring with tears.

Painful scars borne; Love's history.

Futures crumble when doubt appears.


No brightly lit hope envisioned,

When following after harsh words.

Hurt soul splits in twain, partitioned.

Swooned by appeal - when numbness lured.


Apologies made, never bought.

Price paid turned out far too costly.

Though never known what would be wrought -

Must walk into the night softly.


One wish, only to be released.

Granted - now receive this token.

Words written in rhyme, love's deceased.

When promises made . . . were broken.


Segenggam Berlian dalam Timbunan Sampah

Saat Anda membaca tulisan ini, cobalah merenung, berapa banyak sampah yang telah Anda hasilkan hari ini? Mulai remah-remah roti sisa sarapan, koran pagi yang takkan dibaca ulang, hingga botol plastik bekas air mineral. Menurut catatan Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, tiap orang di kota ini menghasilkan sampah rata-rata 2,9 liter per hari. Dengan penduduk sekitar 12 juta jiwa, termasuk para komuter, tiap hari akan tercipta 26.945 m3 atau sekitar 6.000 ton sampah. Kalau seluruh sampah tadi ditumpuk di taman Monumen Nasional (Monas) yang luasnya 110 hektar, niscaya dalam 40 hari taman itu bakal beralih rupa menjadi timbunan sampah setinggi satu meter!


Alih-alih diolah menganut prinsip reuse, reduce, recycle, sampah tadi hanya dibuang begitu saja di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang. Jika tak memperhitungkan daya tampung, bukan tak mungkin kasus longsornya timbunan sampah yang menewaskan warga sekitar akan terulang kembali. Kabar terbaru, kini ada enam perusahaan asal Australia, Cina, Jepang, Korea Selatan, Kanada, dan Singapura yang tengah berebut proyek pengelolaan sampah di Bantar Gebang. Mereka mengaku mampu mengolah dan menghasilkan kredit karbon sesuai konsep mekanisme pengembangan kebersihan (clean development mechanism, CDM).


Sejatinya, di pinggiran Jakarta, ada Hidayat yang mampu mengelola sampah sesuai konsep CDM tadi. Di bawah naungan Yayasan Rumah Perubahan, PT Mitratani Mandiri Perdana (Mittran) miliknya telah melakukan hal-hal yang dijanjikan para pengusaha asing tadi sejak dua tahun silam. Ia bahkan mampu memasok biomasa untuk beberapa perusahaan.


Sampah ditukar susu

Semula, Hidayat adalah pemasok bunga krisan ke supermarket Hero. Selain itu, sejak 1993, ia juga memproduksi mesin pengolah sampah, seperti mesin pencacah plastik atau pengepres sampah. Tetapi, kemudian ia menemui fakta bahwa sebagian besar mesin yang dijualnya ternyata hanya menjadi pajangan semata. Pembeli, yang kebanyakan berasal dari sejumlah pemerintah daerah, tak mengoptimalkan pengoperasiannya. “Daripada mesin mangkrak di gudang, mengapa perusahaan tak sekalian menawarkan jasa pengelolaan sampah?” pikir Hidayat, kala itu.


Sebagai langkah awal, Hidayat menawarkan konsep waste management di lingkungan sekitar tempat tinggalnya, di kawasan Jatimurni, Bekasi. “Resistensi warga besar sekali,” keluh dia. Hingga kemudian, pria kelahiran Magelang, 26 Agustus 1963 ini meminta ijin kepada ketua RT/RW setempat untuk memasang tong sampah di jalan-jalan utama kampung yang banyak dihuni masyarakat kelas sosial bawah. Satu bulan pertama, tiap pagi, karyawan Mittran mengambil sampah. Sebagai perkenalan, ia tak memungut biaya sepeser pun. Usai satu bulan, di depan rapat warga, ia menawarkan opsi: masyarakat akan terus memakai jasanya untuk membersihkan lingkungan atau tidak. Hasilnya, bisa diduga. Seluruh warga mufakat meneruskan memakai jasa Mittran. Sebagai pengusaha, ia lalu menuturkan bahwa layanan ini tidak gratis.


Tiap tong sampah, ia memungut biaya retribusi Rp30.000 per bulan. Satu tong bisa dipakai bersama atau secara individual. Katakan, enam keluarga memakai satu tong, berarti tiap KK hanya perlu membayar Rp5.000 tiap bulan. Nantinya, dengan menggunakan mobil pick up, pekerja Mittran hanya akan mengambil sampah yang dimasukkan ke dalam tong, jikalau ada yang tercecer, mereka akan meninggalkannya tetap di tempat semula. “Saya ingin mengajak masyarakat memperhitungkan seberapa banyak sampah yang mereka hasilkan tiap harinya,” papar Hidayat. Jadi, bila warga hendak menebang pohon atau mengadakan hajatan yang sekiranya akan menghasilkan sampah lebih banyak dari biasanya, mereka harus berkoordinasi dengan pihak Mittran.


Nah, agar sampah tak meluber ke luar tong, pihak perusahaan menawarkan barter untuk barang yang dapat di-recycle, seperti buku telepon, koran bekas, atau botol kecap. Tiap kilogram, perusahaan memberi nilai Rp500 yang bisa ditukarkan dengan telur, mi instan, atau susu. Menurut suami Kusmayawati ini, program itu bisa merangsang masyarakat memilah sampah yang akan dibuang.


Pilihan memakai tong, bukan bak sampah dari semen, dan menempatkannya di jalan-jalan utama, tidak termasuk di gang sempit, ternyata demi sebuah efisiensi. Hidayat memperhitungkan waktu untuk mengolek satu tong sampah hanya 1,2 menit. Bandingkan dengan bak sampah yang membutuhkan 6 menit karena petugas harus mengais lebih dalam. Ini berarti, dalam satu jam, petugas Mittran mampu mengolek 40-50 tong. Jika jam operasional para petugas hanya enam jam, maka mereka bisa mengambil sampah dari 300 tong dalam satu wilayah yang dihuni 1.500 keluarga. “Kami menerapkan sistem seperti PLN. Jika warga lalai membayar retribusi, maka pihak perusahaan akan mencabut tong tersebut dan membiarkan sampah terserak di depan rumah mereka,” ucap anak tunggal yang dibesarkan di lingkungan keluarga TNI ini. Tong tersebut, lanjut dia, merupakan milik perusahaan.


Selain menangani sampah di wilayah Jatimurni, Mittran juga melayani waste management di perumahan di kawasan Cinere, Cibubur, dan Citereup, selain Pasar Ciroyom. “Kalau sekedar membeli mesin pengolah sampah, konsumennya datang dari seluruh penjuru Indonesia,” tutur lulusan FE Universitas Indonesia ini, bangga. Saat ini, Mittran kewalahan dengan permintaan dari pengembang perumahan yang kepincut dengan gaya perusahaan mengelola sampah. Meski demikian, perusahaan tak mengambil semua peluang. Pasalnya, volume sampah masuk tempat pengolahan harus seimbang dengan kapasitas mesin pengolah, agar tak terjadi penimbunan. Tiap hari, Mittran baru mampu mengelola 7,5 ton sampah.


Hukum kekekalan energi

Setelah mengolek sampah, mobil pick up segera meluncur ke tempat pengolahan. Di tempat itu, sampah segera dimasukkan ke mesin sortasi. Sampah organik akan dijadikan kompos. Sedangkan sampah anorganik akan mengalami proses lebih panjang, yakni melewati mesin pencacah dan pencuci. Hasilnya pun ada dua opsi, sampah plastik yang kondisinya masih bagus akan dijual untuk didaur ulang pihak lain, sementara sampah yang tidak bisa diapa-apakan lagi akan dipadatkan untuk dijadikan energi terbarukan (biomasa). Sayangnya, dari permintaan 10.000 ton biomasa dari Indocement, Mittran baru bisa memenuhi 300 ton, tiap bulannya. Ini belum termasuk permintaan dari Holcim dan beberapa pabrik gula. “Mereka memilih biomasa selain didasari oleh makin mahalnya BBM, juga ingin mendapatkan karbon kredit,” ungkap Hdayat. Saat ini pihaknya tengah menjajaki kerjasama dengan Jepang untuk teknologi pengubah plastik – sebuah produk derivatif dari minyak bumi – menjadi solar dan pengekstraksi gas metan yang terkandung dalam sampah.


Saat ini Mittran mempekerjakan 25 karyawan di bagian manajemen, dan puluhan tenaga lepas yang bekerja di tempat pengolahan. Untuk mengepak kompos, misalnya, perusahaan menerima pengangguran yang dibayar Rp100 untuk tiap kantong yang dihasilkan. Pagi hari mereka menaruh KTP, sore hari mereka bisa mengambil kembali kartu identitasnya plus uang hasil jerih payah. Di bawah naungan Yayasan Rumah Perubahan, pihak Mittran kini tengah mengadakan program penciptaan 1.000 entrepreneur sampah. Mereka mendidik calon pengusaha yang tertarik mengembangkan bisnis ini di wilayah lain. “Ini adalah peluang bisnis yang luar biasa. Kalau dikelola dengan benar, sampah bisa menjadi amat berharga,” tandas Roy Kuntjoro, mitra Hidayat di Rumah Perubahan.


Kala planet ini mengalami krisis energi, masyarakat pun makin kreatif untuk mencari sumber energi alternatif. Seorang Hidayat mampu berpikir dan bertindak out of the box dengan menjalankan waste management di lingkungan perumahan. Pada dasarnya, bisnis Mittran berpijak pada hukum kekekalan energi, dan Hidayat dengan cerdas membungkusnya dengan teori bisnis. “Sekarang, kalau melihat daun jatuh dari pohon, saya langsung berpikir ah itu energi, kalau kita olah, bisa dapat duit,” kata Hidayat, terbahak. Penggemar biliar ini menyayangkan potensi energi dan bisnis yang tersimpan dalam gunungan sampah di TPA Bantar Gebang, Leuwigajah, atau Keputih, tapi tak dimanfaatkan secara optimal. “Daripada susah-susah menggali batubara dalam perut bumi, mengapa tidak mendapatkannya dari sampah yang ada di sekitar kita?” tanyanya.


Meski enggan menyebutkan nominal omzet perusahaan, menurut taksiran Warta Ekonomi, Mittran mendapatkan setidaknya Rp225 juta per bulan. Ini belum termasuk pendapatan dari penjualan mesin, retribusi sampah, biaya pendidikan calon entrepreneur sampah, dan fee dari perusahaan pemakai jasanya. “Pokoknya cukup untuk menikmati hidup,” kata ayah dari Tio dan Yoga ini, kalem. Kendati demikian, ia mengembalikan keuntungan ke masyarakat dalam bentuk edukasi. Oleh karena prospek bisnis yang nilainya luar biasa, kurang dari sepuluh tahun mendatang, ia berencana mendaftarkan perusahaannya ke lantai bursa. Sekali mendayung, perusahaan bisa mengupayakan kebersihan lingkungan, mendapatkan energi alternatif, dan tentu saja mengumpulkan pundi-pundi kekayaan.



Ari Windyaningrum

on Warta Ekonomi

Thursday, September 11, 2008

The Double-Digit Inflation Club

Juni 2008 lalu, Morgan Stanley merilis laporan yang mengungkapkan bahwa 50 dari 190 negara di dunia mengalami tingkat inflasi lebih dari 10% (double digit), sebagian besar di antaranya adalah negara berkembang. Ironisnya, enam dari sepuluh negara berpopulasi terbesar di dunia masuk menjadi anggota Double-Digit Inflation Club (DDIC), sebuah klub imajiner besutan Morgan Stanley, yakni India, Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Nigeria, dan Rusia. Enam negara ini menyumbang 42% dari total populasi dunia yang telah mencapai 6,7 miliar jiwa. Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa tingkat inflasi dua digit yang terjadi di negara DDIC merupakan yang terburuk sepanjang 35 tahun. Berbeda dengan kondisi era 1970an dimana inflasi terjadi karena dipengaruhi efek spiral upah buruh, kali ini inflasi dipicu oleh meroketnya harga pangan dan bahan bakar minyak. Menurut catatan IMF, selama Februari 2007 hingga Februari 2008, harga pangan telah melonjak 39%, terutama untuk komoditas gandum, kedelai, dan jagung. Saat ini tingkat inflasi global mencapai level 6%, sementara pada 2007 hanya berada di level 4%. Bank Pembangunan Asia (ADB) mengingatkan pemerintah negara-negara Asia untuk menekan tingkat inflasi agar tak mencapai kondisi terburuk: stagflasi.


India

Per akhir Juni 2008, tingkat inflasi di negara yang beribu kota di New Delhi ini mencapai level 11,05% (y-o-y), tertinggi sepanjang 13 tahun. Secara umum, inflasi dipicu oleh kenaikan harga BBM yang terjadi pada 5 Juni 2008 yang kemudian merembet pada naiknya harga komoditas dan produk manufaktur. Hal itu juga diperparah dengan terus melonjaknya harga baja yang banyak dipakai untuk pembangunan dan produksi mobil. Melonjaknya harga baja memberi kontribusi inflasi hingga 21%. Menteri Keuangan P. Chidambaram mengatakan bahwa inflasi dua digit akan terus berlangsung, paling tidak, sampai September. Untuk itu, pemerintah melakukan beberapa kebijakan moneter, di antaranya meningkatkan tingkat suku bunga bank – untuk kedua kalinya tahun ini dan meningkatkan rasio cadangan kas bank sentral (Reserve Bank of India, RBI) dari 8,25 menjadi 8,75%.


Indonesia

Keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM, akhir Mei lalu, yang berakibat pada meningkatnya harga bahan pokok dan produk manufaktur, telah mengerek tingkat inflasi menembus level 11% (y-o-y). Bank Indonesia memprediksi inflasi akan terus berada di level dua digit, bahkan mencapai level 11,5% hingga 12,5% pada akhir 2008. Untuk mengantisipasi, BI meningkatkan tingkat suku bunga (BI rate) hingga empat kali, masing-masing 25 basis poin, hingga mencapai level 9%. Hal ini adalah upaya bank sentral untuk menghindari overheating economy. Deputi Gubernur Senior BI Miranda Goeltom mengatakan bahwa kenaikan BI rate diharapkan bisa membawa optimisme pasar. BI memprediksi inflasi akan turun dan mencapai 6,5% sampai 7,5%, pada 2009.


Pakistan

Pakistan mencapai rekor inflasi tertinggi sepanjang sejarah negara tersebut, yakni 24,3% (y-o-y), per Agustus 2008. Para analis mengingatkan bahwa tingginya inflasi bakal meresahkan penduduk miskin, karena kesulitan membeli bahan pokok yang harganya sudah melambung rata-rata 35% dibanding tahun sebelumnya. Setidaknya, satu dari empat warga Pakistan hidup di bawah garis kemiskinan. Untuk menekan laju inflasi, bank sentral (State Bank of Pakistan, SBP) telah meningkatkan tingkat suku bunga mencapai 13%. Selain itu, gubernur SBP Shamshad Akhtar juga mengingatkan pemerintah agar tidak meminjam dana dari bank sentral untuk menutupi defisit anggaran.


Bangladesh

Eskalasi harga pangan dan minyak dunia mendorong inflasi dua digit di Bangladesh. Per Agustus, tingkat inflasi mencapai 10,12%. Sejatinya, level tersebut sudah turun dari puncaknya, 11,21% yang terjadi pada November 2007, tertinggi sejak 17 tahun lalu. Untuk mengatasi hal tersebut, bank sentral Bangladesh menerapkan kebijakan moneter lebih ketat, seperti meningkatkan suku bunga bank yang terjadi secara berkala selama dua tahun terakhir.


Nigeria

Bank sentral Nigeria (Central Bank of Nigeria, CBN) menetapkan tingkat suku bunga 10,25% untuk mengatasi inflasi yang mencapai level 12% di negeri yang beribu kota di Lagos ini. Gubernur CBN Chukwuma Soludo menegaskan kebijakan moneter yang ketat adalah cara paling ampuh untuk mengatasi laju inflasi yang makin tinggi. Selain itu, pada 5 Agustus 2008 lalu, ia menyerukan tiap bank untuk memublikasikan tingkat suku bunga pinjaman untuk tiap sektor di situs perusahaan atau media massa, secara berkala. Menurut Soludo, kebijakan transparansi ini akan menciptakan kompetisi antarbank yang sehat dan bisa menimbulkan efek positif pada rezim suku bunga. Ia memprediksi Nigeria masih akan mengalami inflasi dua digit hingga akhir 2008.


Rusia

Kementerian Ekonomi Rusia merevisi tingkat inflasi menjadi 11,8% per akhir tahun, dari semula 10,5%. Deputi menteri ekononomi Andrei Klepach mengatakan bahwa tingkat inflasi sudah mulai turun dari puncaknya yang menembus 15%, pada awal tahun. Klepach menuturkan hal ini terjadi karena pemerintah berhasil memperlambat beredarnya suplai uang hingga 31,2% per 1 Juli 2008, berkat suku bunga bank yang tinggi. Bank sentral menetapkan suku bunga 11%, dari sebelumnya 10%. Selain itu, bank sentral juga menetapkan kebijakan nilai tukar yang memperbolehkan rubel berfluktuasi terhadap dollar atau euro, namun tetap dibatasi koridor tertentu.


Filipina

Gubernur bank sentral Filipina (Bangko Sentral ng Pilipinas, BSP), Amando Tetangco menuturkan bahwa inflasi dua digit yang melanda negeri itu akan berlanjut hingga kuartal I 2009. Per Juni 2008, tingkat inflasi di Filipina mencapai 11,6%, tertinggi selama 14 tahun. Ia memprediksi bahwa angka itu akan terus meningkat karena inflasi belum mencapai titik puncak 12%. BSP sendiri telah dua kali menaikkan tingkat suku bunga, hingga total 75 basis poin, menjadi 7,75%.


Vietnam

Pada Februari lalu, Vietnam mengalami tingkat inflasi 15,7%. Kenaikan harga pangan yang ditekan oleh meningkatnya harga makanan pokok hingga 25% dan kenaikan harga perumahan serta bahan material hingga 16%, telah mengerek inflasi ke tingkat tertinggi sejak 12 tahun. Otoritas keuangan setempat khawatir dampak inflasi akan memperburuk stabilitas negara, termasuk maraknya demo buruh yang memprotes upah yang tak lagi bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Chief economist UNDP yang berbasis di Hanoi, Jonathan Pincus menuturkan bahwa Vietnam terimbas oleh menguatnya renminbi atas dollar, dengan kata lain negara tersebut “mengimpor inflasi” dari Cina. Bank sentral Vietnam melakukan langkah-langkah mengerem likuiditas di sistem finansial, seperti meningkatkan suku bunga hingga 14% dari sebelumnya 12%, mengharuskan bank komersial meningkatkan cadangan dana, serta meminta bank dan lembaga kredit untuk membeli treasury bill dengan bunga 7,8%. Sayangnya, strategi itu menimbulkan protes dari kalangan perbankan.


Ethiopia

Negeri miskin di benua hitam Afrika ini masih terbelit masalah kemiskinan dan kekacauan dalam negeri. Economist Intelligence Unit memprediksi inflasi dua digit akan terus membayangi, dengan rata-rata 28%, selama 2008 akibat kenaikan harga pangan dan minyak. Puncak inflasi terjadi pada April 2008, yakni 38,1% (y-o-y) yang diakibatkan oleh kenaikan harga bahan pokok sebesar 43,7%. Untuk menghindari inflasi yang terus memburuk Bank sentral Ethiopia (National Bank of Ethiopia, NBE) melakukan kebijakan moneter yang ketat dan berusaha menurunkan harga pangan agar target inflasi 15% bisa tercapai tahun depan. Di lain sisi, pihak oposisi meminta NBE membersihkan diri dari korupsi dan melakukan good corporate governance.


Mesir

Parlemen Mesir menyetujui kenaikan harga bensin, cukai rokok, dan pajak kendaraan bermotor pada 2 Mei 2008 lalu, demi mencukupi anggaran belanja gaji pegawai negeri. Namun, kenaikan harga pangan dan bahan bakar yang terjadi secara global membuat Mesir tak kuasa menahan inflasi yang mencapai rekor 22%, pada Juli 2008. Terburuk sejak 1992. Untuk menghadapi kemungkinan terburuk, bank sentral Mesir telah merevisi tingkat suku bunga sampai lima kali, tahun ini hingga mencapai 11% per 8 Agustus 2008.


Zimbabwe

Inilah negeri yang mengalami inflasi paling parah di dunia dalam satu dekade terakhir. Tak sekedar dobel digit, tapi 2.200.000%, year on year, per Agustus 2008. Ya, inflasi di Zimbabwe mencapai dua juta dua ratus persen! Untuk menyiasati kelebihan uang beredar, pemerintah menerbitkan pecahan uang dengan nominal amat besar, di antaranya pada Mei 2008 bank sentral Zimbabwe mencetak pecahan $500 juta yang hanya bernilai US$2, atau hanya untuk sekali makan. Sementara pada 20 Juli 2008, bank sentral Zimbabwe menerbitkan pecahan $100 miliar, pecahan uang dengan nominal terbesar di dunia. Di ibukota Harare, karyawan toko amat sibuk mengganti label harga karena naiknya harga barang melambung dalam hitungan menit, bahkan detik. Ke depan, pemerintah setempat berencana akan menghapus nol yang ada di uang pecahan yang baru diterbitkan itu, dari $10 miliar menjadi $1. ###


Ari Windyaningrum

on Warta Ekonomi


Friday, February 23, 2007

MDG: Millenium Development Goals

Belakangan, iklan layanan masyarakat mengenai MDG - Millenium Development Goals, banyak banget. Mulai versi Toto sampai Dian Sastro yang ngomong. Sayang, detail tujuan pembangunan di era milenium ini jarang banget dikupas. Inilah isinya:

1. Menghapuskan kemiskinan dan kelaparan ekstrim:
a. Mengurangi sampai setengahnya proporsi masyarakat yang hidup kurang dari US$1 per hari
b. Mengurangi sampai setengahnya proporsi masyarakat yang menderita kelapran.
2. Mencapai pendidikan dasar universal: menjamin semua anak laki-laki dan perempuan menyelesaikan pendidikan SD.
3. Mempromosikan kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan: menghapuskan perbedaan gender dalam pendidikan dasar dan menengah pada 2005, dan pada semua tingkatan pada 2015.
4. Mengurangi kematian anak: mengurangi 2/3 angka kematian balita.
5. Meningkatkan kesehatan ibu: mengurangi 3/4 rasio kematian ibu.
6. Melawan HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya:
a. Menghentikan dan mulai membalik penyebaran HIV/AIDS.
b. Menghentikan dan mulai membalik penularan malaria dan penyakit menular lainnya.
7. Menjamin keberlanjutan lingkungan hidup:
a. Mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam program dan kebijakan negara, dan mengganti hilangnya Sumber Daya Alam.
b. Mengurangi setengah dari proporsi masyarakat tanpa akses pada air minum yang aman.
c. Mencapai perbaikan yang signifikan bagi sedikitnya kehidupan 100 jut gelandangan pada 2020.
8. Mengembangkan kemitraan global bagi pembangunan:
a. Mengembangkan lebih lanjut sistem keuangan dan perdagangan terbuka yang berbasis aturan, dapat diprediksi dan tidak diskriminatif. Termasuk komitmen tata kelola yang baik, pembangunan dan pengurangan kemiskinan.
b. Menangani kebutuhan khusus negara belum berkembang. Termasuk tarif dan kuota, meningkatkan penghapusan utang bagi negara miskin yang terlilit utang, memberi lebih banyak bantuan bagi negara yang berkomitmen mengurangi kemiskinan.
c. Menangani kebutuhan khusus dari negara yang terisolasi dan negara kecil.
d. Mengurangi secara komprehensif permasalahan utang negara berkembang.
e. Bekerjasama dengan negara berkembang, mengembangkan pekerjaan yang layak dan produktif untuk kaum muda.
f. Bekerjasama dengan perusahaan farmasi untuk menyediakan akses obat-obatan ke negara berkembang.
g. Bekerjasama dengan sektor swasta untuk menyediakan manfaat teknologi baru - terutama ICT.

Source: UN

Wednesday, February 7, 2007

Priceless saying..

Jack wakes up at home with a huge hangover after the night at a business function.

He forces himself to open his eyes and the first thing he sees is a couple of aspirins next to a glass of water on the side table.

And, next to them, a single red rose!

Jack sits down and sees his clothing in front of him, all clean and pressed.

Jack looks around the room and sees that it is in perfect order, spotlessly clean. So is the rest of the house.

He takes the aspirins, cringes when he sees a huge black eye staring back at him in the bathroom mirror and notices a note on the table:

"Honey, breakfast is on the stove, I left early to go shopping – I Love you!!"

He stumbles to the kitchen and sure enough, there is hot breakfast and the morning newspaper.

His son is also at the table, eating.

Jack asks,

"Son...what happened last night?"

"Well, you came home after 3am, drunk and out of your mind. You broke the coffee table, puked in the hallway and got that black eye when you ran into the door."

"So, why is everything in such perfect order, so clean, I have a rose and breakfast is on the table waiting for me?"

His son replies, "Oh, THAT!...Mom dragged you to the bedroom and when she tried to take your pants off, you screamed, "Leave me alone, b!%@h, I'm married!!!".

......

Saying the right thing, at the right time... Priceless.

Dark, cold and scary...

It was so dark, cold and scary. From my bus' window, I could see nothing except the water. In some area there are still no electricity access, yet. Some Jakartans change their "status" to become refugees. Even the rich Chinese who lived in Kelapa Gading's elite real estate. They use mosques, schools, train and busway stations, or paving street to stay. They have no place to shade.

This year's flood is worse than 2002. On the begining of 2007, water-flood hit almost 70% of Jakarta --including 4 neigbouring cities. The floodwater height was up to 2 meters, meanwhile in some area reach 4 meters! Imagine... only top of the roofs and trees were seen from distance. It's horrible.

Today is my first day back to work in the office. Since Friday (2/2) I worked at home, because I couldn't reached my office. All alternative routes were broken due to the flood. While there were no electricity and telecomunnication access in my office.

However, thanks God my appt and office were safe from water. My appt is on the higher land, meanwhile my office is near the Presidential Palace - so it has better preventation from the water. On the 6th day of the disaster, but puddles are still found.

When last month we have wanted rain --because the temperature reached 37 degree celcius, now God sent TOO MANY rain to us.

Wednesday, January 24, 2007

I Love You

I love you
Not only for what you are
But for what I am
When I am with you

I love you
Not only for what
You have made of yourself
But for what
You are making of me

I love you
For the part of me
That you bring out;
I love you
For putting your hand
Into my heaped-up heart
And passing over
All the stupid, weak things
That you can’t help
Dimly seeing there,
And for drawing out
Into the light
All the beautiful belongings
That no one else had looked
Quite far enough to find

I love you because you
Are helping me to make
Of the lumber of my life
Not a tavern
But a temple;
Out of works
Of my every day
Not a reproach
But a song

I love you
Because you have done
More than any creed
Could have done
To make me good,
And more than any fate
Could have done
To make me happy

You have done it
Without a word
Without a sign

You have done it
By being yourself
I love you...