Juni 2008 lalu, Morgan Stanley merilis laporan yang mengungkapkan bahwa 50 dari 190 negara di dunia mengalami tingkat inflasi lebih dari 10% (double digit), sebagian besar di antaranya adalah negara berkembang. Ironisnya, enam dari sepuluh negara berpopulasi terbesar di dunia masuk menjadi anggota Double-Digit Inflation Club (DDIC), sebuah klub imajiner besutan Morgan Stanley, yakni India, Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Nigeria, dan Rusia. Enam negara ini menyumbang 42% dari total populasi dunia yang telah mencapai 6,7 miliar jiwa. Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa tingkat inflasi dua digit yang terjadi di negara DDIC merupakan yang terburuk sepanjang 35 tahun. Berbeda dengan kondisi era 1970an dimana inflasi terjadi karena dipengaruhi efek spiral upah buruh, kali ini inflasi dipicu oleh meroketnya harga pangan dan bahan bakar minyak. Menurut catatan IMF, selama Februari 2007 hingga Februari 2008, harga pangan telah melonjak 39%, terutama untuk komoditas gandum, kedelai, dan jagung. Saat ini tingkat inflasi global mencapai level 6%, sementara pada 2007 hanya berada di level 4%. Bank Pembangunan Asia (ADB) mengingatkan pemerintah negara-negara Asia untuk menekan tingkat inflasi agar tak mencapai kondisi terburuk: stagflasi.
India
Per akhir Juni 2008, tingkat inflasi di negara yang beribu kota di New Delhi ini mencapai level 11,05% (y-o-y), tertinggi sepanjang 13 tahun. Secara umum, inflasi dipicu oleh kenaikan harga BBM yang terjadi pada 5 Juni 2008 yang kemudian merembet pada naiknya harga komoditas dan produk manufaktur. Hal itu juga diperparah dengan terus melonjaknya harga baja yang banyak dipakai untuk pembangunan dan produksi mobil. Melonjaknya harga baja memberi kontribusi inflasi hingga 21%. Menteri Keuangan P. Chidambaram mengatakan bahwa inflasi dua digit akan terus berlangsung, paling tidak, sampai September. Untuk itu, pemerintah melakukan beberapa kebijakan moneter, di antaranya meningkatkan tingkat suku bunga bank – untuk kedua kalinya tahun ini dan meningkatkan rasio cadangan kas bank sentral (Reserve Bank of India, RBI) dari 8,25 menjadi 8,75%.
Indonesia
Keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM, akhir Mei lalu, yang berakibat pada meningkatnya harga bahan pokok dan produk manufaktur, telah mengerek tingkat inflasi menembus level 11% (y-o-y). Bank Indonesia memprediksi inflasi akan terus berada di level dua digit, bahkan mencapai level 11,5% hingga 12,5% pada akhir 2008. Untuk mengantisipasi, BI meningkatkan tingkat suku bunga (BI rate) hingga empat kali, masing-masing 25 basis poin, hingga mencapai level 9%. Hal ini adalah upaya bank sentral untuk menghindari overheating economy. Deputi Gubernur Senior BI Miranda Goeltom mengatakan bahwa kenaikan BI rate diharapkan bisa membawa optimisme pasar. BI memprediksi inflasi akan turun dan mencapai 6,5% sampai 7,5%, pada 2009.
Pakistan
Pakistan mencapai rekor inflasi tertinggi sepanjang sejarah negara tersebut, yakni 24,3% (y-o-y), per Agustus 2008. Para analis mengingatkan bahwa tingginya inflasi bakal meresahkan penduduk miskin, karena kesulitan membeli bahan pokok yang harganya sudah melambung rata-rata 35% dibanding tahun sebelumnya. Setidaknya, satu dari empat warga Pakistan hidup di bawah garis kemiskinan. Untuk menekan laju inflasi, bank sentral (State Bank of Pakistan, SBP) telah meningkatkan tingkat suku bunga mencapai 13%. Selain itu, gubernur SBP Shamshad Akhtar juga mengingatkan pemerintah agar tidak meminjam dana dari bank sentral untuk menutupi defisit anggaran.
Bangladesh
Eskalasi harga pangan dan minyak dunia mendorong inflasi dua digit di Bangladesh. Per Agustus, tingkat inflasi mencapai 10,12%. Sejatinya, level tersebut sudah turun dari puncaknya, 11,21% yang terjadi pada November 2007, tertinggi sejak 17 tahun lalu. Untuk mengatasi hal tersebut, bank sentral Bangladesh menerapkan kebijakan moneter lebih ketat, seperti meningkatkan suku bunga bank yang terjadi secara berkala selama dua tahun terakhir.
Nigeria
Bank sentral Nigeria (Central Bank of Nigeria, CBN) menetapkan tingkat suku bunga 10,25% untuk mengatasi inflasi yang mencapai level 12% di negeri yang beribu kota di Lagos ini. Gubernur CBN Chukwuma Soludo menegaskan kebijakan moneter yang ketat adalah cara paling ampuh untuk mengatasi laju inflasi yang makin tinggi. Selain itu, pada 5 Agustus 2008 lalu, ia menyerukan tiap bank untuk memublikasikan tingkat suku bunga pinjaman untuk tiap sektor di situs perusahaan atau media massa, secara berkala. Menurut Soludo, kebijakan transparansi ini akan menciptakan kompetisi antarbank yang sehat dan bisa menimbulkan efek positif pada rezim suku bunga. Ia memprediksi Nigeria masih akan mengalami inflasi dua digit hingga akhir 2008.
Rusia
Kementerian Ekonomi Rusia merevisi tingkat inflasi menjadi 11,8% per akhir tahun, dari semula 10,5%. Deputi menteri ekononomi Andrei Klepach mengatakan bahwa tingkat inflasi sudah mulai turun dari puncaknya yang menembus 15%, pada awal tahun. Klepach menuturkan hal ini terjadi karena pemerintah berhasil memperlambat beredarnya suplai uang hingga 31,2% per 1 Juli 2008, berkat suku bunga bank yang tinggi. Bank sentral menetapkan suku bunga 11%, dari sebelumnya 10%. Selain itu, bank sentral juga menetapkan kebijakan nilai tukar yang memperbolehkan rubel berfluktuasi terhadap dollar atau euro, namun tetap dibatasi koridor tertentu.
Filipina
Gubernur bank sentral Filipina (Bangko Sentral ng Pilipinas, BSP), Amando Tetangco menuturkan bahwa inflasi dua digit yang melanda negeri itu akan berlanjut hingga kuartal I 2009. Per Juni 2008, tingkat inflasi di Filipina mencapai 11,6%, tertinggi selama 14 tahun. Ia memprediksi bahwa angka itu akan terus meningkat karena inflasi belum mencapai titik puncak 12%. BSP sendiri telah dua kali menaikkan tingkat suku bunga, hingga total 75 basis poin, menjadi 7,75%.
Vietnam
Pada Februari lalu, Vietnam mengalami tingkat inflasi 15,7%. Kenaikan harga pangan yang ditekan oleh meningkatnya harga makanan pokok hingga 25% dan kenaikan harga perumahan serta bahan material hingga 16%, telah mengerek inflasi ke tingkat tertinggi sejak 12 tahun. Otoritas keuangan setempat khawatir dampak inflasi akan memperburuk stabilitas negara, termasuk maraknya demo buruh yang memprotes upah yang tak lagi bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Chief economist UNDP yang berbasis di Hanoi, Jonathan Pincus menuturkan bahwa Vietnam terimbas oleh menguatnya renminbi atas dollar, dengan kata lain negara tersebut “mengimpor inflasi” dari Cina. Bank sentral Vietnam melakukan langkah-langkah mengerem likuiditas di sistem finansial, seperti meningkatkan suku bunga hingga 14% dari sebelumnya 12%, mengharuskan bank komersial meningkatkan cadangan dana, serta meminta bank dan lembaga kredit untuk membeli treasury bill dengan bunga 7,8%. Sayangnya, strategi itu menimbulkan protes dari kalangan perbankan.
Ethiopia
Negeri miskin di benua hitam Afrika ini masih terbelit masalah kemiskinan dan kekacauan dalam negeri. Economist Intelligence Unit memprediksi inflasi dua digit akan terus membayangi, dengan rata-rata 28%, selama 2008 akibat kenaikan harga pangan dan minyak. Puncak inflasi terjadi pada April 2008, yakni 38,1% (y-o-y) yang diakibatkan oleh kenaikan harga bahan pokok sebesar 43,7%. Untuk menghindari inflasi yang terus memburuk Bank sentral Ethiopia (National Bank of Ethiopia, NBE) melakukan kebijakan moneter yang ketat dan berusaha menurunkan harga pangan agar target inflasi 15% bisa tercapai tahun depan. Di lain sisi, pihak oposisi meminta NBE membersihkan diri dari korupsi dan melakukan good corporate governance.
Mesir
Parlemen Mesir menyetujui kenaikan harga bensin, cukai rokok, dan pajak kendaraan bermotor pada 2 Mei 2008 lalu, demi mencukupi anggaran belanja gaji pegawai negeri. Namun, kenaikan harga pangan dan bahan bakar yang terjadi secara global membuat Mesir tak kuasa menahan inflasi yang mencapai rekor 22%, pada Juli 2008. Terburuk sejak 1992. Untuk menghadapi kemungkinan terburuk, bank sentral Mesir telah merevisi tingkat suku bunga sampai lima kali, tahun ini hingga mencapai 11% per 8 Agustus 2008.
Zimbabwe
Inilah negeri yang mengalami inflasi paling parah di dunia dalam satu dekade terakhir. Tak sekedar dobel digit, tapi 2.200.000%, year on year, per Agustus 2008. Ya, inflasi di Zimbabwe mencapai dua juta dua ratus persen! Untuk menyiasati kelebihan uang beredar, pemerintah menerbitkan pecahan uang dengan nominal amat besar, di antaranya pada Mei 2008 bank sentral Zimbabwe mencetak pecahan $500 juta yang hanya bernilai US$2, atau hanya untuk sekali makan. Sementara pada 20 Juli 2008, bank sentral Zimbabwe menerbitkan pecahan $100 miliar, pecahan uang dengan nominal terbesar di dunia. Di ibukota Harare, karyawan toko amat sibuk mengganti label harga karena naiknya harga barang melambung dalam hitungan menit, bahkan detik. Ke depan, pemerintah setempat berencana akan menghapus nol yang ada di uang pecahan yang baru diterbitkan itu, dari $10 miliar menjadi $1. ###
Ari Windyaningrum
on Warta Ekonomi
No comments:
Post a Comment