Wednesday, September 24, 2008

It's Mudik Time...


The Eid is around the corner. For Ms Ring-ring, like me, it's time to activate the Flexi Combo, to switch the code area. Well, that the negative side of CDMA network... [but I do love the cheaper tariff than GSM].

To activate the call forwarding you must type: On [space] name or area code of your destination city, then send to 777. Then, push *77 [Ok]. And a very good news came from Telkom, active time for call forwarding were extended, from 3 days to 7 days on this Eid Holiday. Yippiee...

Everyone, Happy Eid!!

Monday, September 22, 2008

Days Without Internet Access


I think I am addicted to internet. I feel such an incomplete life when I have no access to check mails, chat, or googling for some days.

Yesterday, I experienced "Error Code 2" from my Yahoo! mail, for the second time. Last time I've got this problem, I couldn't check my e-mails for 5 days. This time --- thanks GOD --- I experienced it only for 2 days. This morning, I found tons of mails on my Inbox,

Days without internet access? It such a horrible thing to me.

This afternoon I received a mail from the Yahoo! team.
They said:

"We're very sorry that you've received an error code while using Yahoo! Mail. For most customers, these errors are a temporary problem that most likely has resolved itself by now. However, we would like to provide you with some additional information that may assist you in troubleshooting.

Steps that can cause an error code are: (but are not limited to)
* You have deleted or moved a message, and then tried to access it.
* You are running several windows or tabs open in the same Yahoo! Mail account.
* You are running Yahoo! email service, in conjunction with another email service. (such as outlook or your mobile phone email service)

You can always try hitting the refresh button, closing some windows or making sure you are only signed into 1 account. However, if you are repeatedly experiencing these errors, please reply to this message and a Customer Care agent will respond within 24 hours."

Mhm.. I don't think I did what they've said. Once, I was soooooo afraid that somebody "hacked" my account (hahahaha.... I saw too much detective action on TV series).

The funny thing is,
my colleague, editor-in-chief of the best PC Magazine, do not know how to solve Error Code 2.

If you are facing the same problem with me, just do nothing. The problem will solve by itself...

Tuesday, September 16, 2008

A Poverty Parade

Take Zakat [alms] from their wealth in order to purify them and sanctify them with it and invoke Allah for them. (Q.S At-Taubah: 103)


When I was having my Iftary meals, yesterday (9/16), a sad - and embarrassing - news appeared on the TV screen. Twenty-one women were killed and dozens of others injured in a stampede in Pasuruan, East Java as crowds rushed to receive a zakat (obligatory alms) from a local muzakki (philanthropist).

Eyewitnesses said the incident occurred when a crowd pushed through a long narrow alley leading to the house of Haji Saykhon – whom at first I heard his name was Haji Syaiton (satan) hehehe.. – to receive the obligatory alms for the poor.

There were about 2.000 women trying to get the cash gift of Rp30.000 (US$3.30) each. The doctor said most of the victim victims died from being trampled upon while in a weak physical condition from two weeks of fasting, shortage of oxygen in the thick of the crowd, and high air temperature which reached 32 – 35 Celsius degrees.

On the commercial break, I lose my appetite. Oh my God! All those poor women took the risk to get Rp30.000. It only half of my transportation and meal cost per day.

I don't want to blame anyone in this case. But I think giving the zakat directly to the poor only shows a poverty parade.

Zakat is the cornerstone of Islamic economic system, and paying it creates safety and solidarity in the Muslim community. But, I think, it would be better if the rich donate part of their fortune to organization or mosque, or whoever required under Islamic teaching, which have capability to distribute it into the poor. I believe the organization have better database (though the fact that the government don't have the exact number of the poor ).

But, If the muzakki wants to give it directly to the poor, just in case he doesn't believe such organization, why doesn't he come to their home? So, the poor no need to loose their pride. Who will be proud to be known as the Poor?

Most of the survival said that they would spend it to celebrate Idul Fitri, the festival that marks the end of the Ramadan fasting month. The purchase of new clothes or special foods has been one the first thing to be sacrifice by the families battling the tough of economic times. But, what is Eid without new clothes, good food, or mudik to the home town? I think, it is a time to celebrate and thank Allah for His blessings...


Sunday, September 14, 2008

That's Life...


When you say it is simple,

It says - not as simple as you think!


When you say it is difficult,

It says - not as difficult as you think!


When you say it is beautiful,

Giving a healthy challenge,it says - are you sure?


When you say it is pathetic,

Making things easier, it says - chill dear.


When you say you know it well,

It will confuse you and say - you bet!


When you say - has anyone understood you still ?

It will comfort you saying, someday maybe you will !


That's life...


Friday, September 12, 2008

Promises Made

Yesterday's goals, dim memories.

Dark saddened eyes, blurring with tears.

Painful scars borne; Love's history.

Futures crumble when doubt appears.


No brightly lit hope envisioned,

When following after harsh words.

Hurt soul splits in twain, partitioned.

Swooned by appeal - when numbness lured.


Apologies made, never bought.

Price paid turned out far too costly.

Though never known what would be wrought -

Must walk into the night softly.


One wish, only to be released.

Granted - now receive this token.

Words written in rhyme, love's deceased.

When promises made . . . were broken.


Segenggam Berlian dalam Timbunan Sampah

Saat Anda membaca tulisan ini, cobalah merenung, berapa banyak sampah yang telah Anda hasilkan hari ini? Mulai remah-remah roti sisa sarapan, koran pagi yang takkan dibaca ulang, hingga botol plastik bekas air mineral. Menurut catatan Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, tiap orang di kota ini menghasilkan sampah rata-rata 2,9 liter per hari. Dengan penduduk sekitar 12 juta jiwa, termasuk para komuter, tiap hari akan tercipta 26.945 m3 atau sekitar 6.000 ton sampah. Kalau seluruh sampah tadi ditumpuk di taman Monumen Nasional (Monas) yang luasnya 110 hektar, niscaya dalam 40 hari taman itu bakal beralih rupa menjadi timbunan sampah setinggi satu meter!


Alih-alih diolah menganut prinsip reuse, reduce, recycle, sampah tadi hanya dibuang begitu saja di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang. Jika tak memperhitungkan daya tampung, bukan tak mungkin kasus longsornya timbunan sampah yang menewaskan warga sekitar akan terulang kembali. Kabar terbaru, kini ada enam perusahaan asal Australia, Cina, Jepang, Korea Selatan, Kanada, dan Singapura yang tengah berebut proyek pengelolaan sampah di Bantar Gebang. Mereka mengaku mampu mengolah dan menghasilkan kredit karbon sesuai konsep mekanisme pengembangan kebersihan (clean development mechanism, CDM).


Sejatinya, di pinggiran Jakarta, ada Hidayat yang mampu mengelola sampah sesuai konsep CDM tadi. Di bawah naungan Yayasan Rumah Perubahan, PT Mitratani Mandiri Perdana (Mittran) miliknya telah melakukan hal-hal yang dijanjikan para pengusaha asing tadi sejak dua tahun silam. Ia bahkan mampu memasok biomasa untuk beberapa perusahaan.


Sampah ditukar susu

Semula, Hidayat adalah pemasok bunga krisan ke supermarket Hero. Selain itu, sejak 1993, ia juga memproduksi mesin pengolah sampah, seperti mesin pencacah plastik atau pengepres sampah. Tetapi, kemudian ia menemui fakta bahwa sebagian besar mesin yang dijualnya ternyata hanya menjadi pajangan semata. Pembeli, yang kebanyakan berasal dari sejumlah pemerintah daerah, tak mengoptimalkan pengoperasiannya. “Daripada mesin mangkrak di gudang, mengapa perusahaan tak sekalian menawarkan jasa pengelolaan sampah?” pikir Hidayat, kala itu.


Sebagai langkah awal, Hidayat menawarkan konsep waste management di lingkungan sekitar tempat tinggalnya, di kawasan Jatimurni, Bekasi. “Resistensi warga besar sekali,” keluh dia. Hingga kemudian, pria kelahiran Magelang, 26 Agustus 1963 ini meminta ijin kepada ketua RT/RW setempat untuk memasang tong sampah di jalan-jalan utama kampung yang banyak dihuni masyarakat kelas sosial bawah. Satu bulan pertama, tiap pagi, karyawan Mittran mengambil sampah. Sebagai perkenalan, ia tak memungut biaya sepeser pun. Usai satu bulan, di depan rapat warga, ia menawarkan opsi: masyarakat akan terus memakai jasanya untuk membersihkan lingkungan atau tidak. Hasilnya, bisa diduga. Seluruh warga mufakat meneruskan memakai jasa Mittran. Sebagai pengusaha, ia lalu menuturkan bahwa layanan ini tidak gratis.


Tiap tong sampah, ia memungut biaya retribusi Rp30.000 per bulan. Satu tong bisa dipakai bersama atau secara individual. Katakan, enam keluarga memakai satu tong, berarti tiap KK hanya perlu membayar Rp5.000 tiap bulan. Nantinya, dengan menggunakan mobil pick up, pekerja Mittran hanya akan mengambil sampah yang dimasukkan ke dalam tong, jikalau ada yang tercecer, mereka akan meninggalkannya tetap di tempat semula. “Saya ingin mengajak masyarakat memperhitungkan seberapa banyak sampah yang mereka hasilkan tiap harinya,” papar Hidayat. Jadi, bila warga hendak menebang pohon atau mengadakan hajatan yang sekiranya akan menghasilkan sampah lebih banyak dari biasanya, mereka harus berkoordinasi dengan pihak Mittran.


Nah, agar sampah tak meluber ke luar tong, pihak perusahaan menawarkan barter untuk barang yang dapat di-recycle, seperti buku telepon, koran bekas, atau botol kecap. Tiap kilogram, perusahaan memberi nilai Rp500 yang bisa ditukarkan dengan telur, mi instan, atau susu. Menurut suami Kusmayawati ini, program itu bisa merangsang masyarakat memilah sampah yang akan dibuang.


Pilihan memakai tong, bukan bak sampah dari semen, dan menempatkannya di jalan-jalan utama, tidak termasuk di gang sempit, ternyata demi sebuah efisiensi. Hidayat memperhitungkan waktu untuk mengolek satu tong sampah hanya 1,2 menit. Bandingkan dengan bak sampah yang membutuhkan 6 menit karena petugas harus mengais lebih dalam. Ini berarti, dalam satu jam, petugas Mittran mampu mengolek 40-50 tong. Jika jam operasional para petugas hanya enam jam, maka mereka bisa mengambil sampah dari 300 tong dalam satu wilayah yang dihuni 1.500 keluarga. “Kami menerapkan sistem seperti PLN. Jika warga lalai membayar retribusi, maka pihak perusahaan akan mencabut tong tersebut dan membiarkan sampah terserak di depan rumah mereka,” ucap anak tunggal yang dibesarkan di lingkungan keluarga TNI ini. Tong tersebut, lanjut dia, merupakan milik perusahaan.


Selain menangani sampah di wilayah Jatimurni, Mittran juga melayani waste management di perumahan di kawasan Cinere, Cibubur, dan Citereup, selain Pasar Ciroyom. “Kalau sekedar membeli mesin pengolah sampah, konsumennya datang dari seluruh penjuru Indonesia,” tutur lulusan FE Universitas Indonesia ini, bangga. Saat ini, Mittran kewalahan dengan permintaan dari pengembang perumahan yang kepincut dengan gaya perusahaan mengelola sampah. Meski demikian, perusahaan tak mengambil semua peluang. Pasalnya, volume sampah masuk tempat pengolahan harus seimbang dengan kapasitas mesin pengolah, agar tak terjadi penimbunan. Tiap hari, Mittran baru mampu mengelola 7,5 ton sampah.


Hukum kekekalan energi

Setelah mengolek sampah, mobil pick up segera meluncur ke tempat pengolahan. Di tempat itu, sampah segera dimasukkan ke mesin sortasi. Sampah organik akan dijadikan kompos. Sedangkan sampah anorganik akan mengalami proses lebih panjang, yakni melewati mesin pencacah dan pencuci. Hasilnya pun ada dua opsi, sampah plastik yang kondisinya masih bagus akan dijual untuk didaur ulang pihak lain, sementara sampah yang tidak bisa diapa-apakan lagi akan dipadatkan untuk dijadikan energi terbarukan (biomasa). Sayangnya, dari permintaan 10.000 ton biomasa dari Indocement, Mittran baru bisa memenuhi 300 ton, tiap bulannya. Ini belum termasuk permintaan dari Holcim dan beberapa pabrik gula. “Mereka memilih biomasa selain didasari oleh makin mahalnya BBM, juga ingin mendapatkan karbon kredit,” ungkap Hdayat. Saat ini pihaknya tengah menjajaki kerjasama dengan Jepang untuk teknologi pengubah plastik – sebuah produk derivatif dari minyak bumi – menjadi solar dan pengekstraksi gas metan yang terkandung dalam sampah.


Saat ini Mittran mempekerjakan 25 karyawan di bagian manajemen, dan puluhan tenaga lepas yang bekerja di tempat pengolahan. Untuk mengepak kompos, misalnya, perusahaan menerima pengangguran yang dibayar Rp100 untuk tiap kantong yang dihasilkan. Pagi hari mereka menaruh KTP, sore hari mereka bisa mengambil kembali kartu identitasnya plus uang hasil jerih payah. Di bawah naungan Yayasan Rumah Perubahan, pihak Mittran kini tengah mengadakan program penciptaan 1.000 entrepreneur sampah. Mereka mendidik calon pengusaha yang tertarik mengembangkan bisnis ini di wilayah lain. “Ini adalah peluang bisnis yang luar biasa. Kalau dikelola dengan benar, sampah bisa menjadi amat berharga,” tandas Roy Kuntjoro, mitra Hidayat di Rumah Perubahan.


Kala planet ini mengalami krisis energi, masyarakat pun makin kreatif untuk mencari sumber energi alternatif. Seorang Hidayat mampu berpikir dan bertindak out of the box dengan menjalankan waste management di lingkungan perumahan. Pada dasarnya, bisnis Mittran berpijak pada hukum kekekalan energi, dan Hidayat dengan cerdas membungkusnya dengan teori bisnis. “Sekarang, kalau melihat daun jatuh dari pohon, saya langsung berpikir ah itu energi, kalau kita olah, bisa dapat duit,” kata Hidayat, terbahak. Penggemar biliar ini menyayangkan potensi energi dan bisnis yang tersimpan dalam gunungan sampah di TPA Bantar Gebang, Leuwigajah, atau Keputih, tapi tak dimanfaatkan secara optimal. “Daripada susah-susah menggali batubara dalam perut bumi, mengapa tidak mendapatkannya dari sampah yang ada di sekitar kita?” tanyanya.


Meski enggan menyebutkan nominal omzet perusahaan, menurut taksiran Warta Ekonomi, Mittran mendapatkan setidaknya Rp225 juta per bulan. Ini belum termasuk pendapatan dari penjualan mesin, retribusi sampah, biaya pendidikan calon entrepreneur sampah, dan fee dari perusahaan pemakai jasanya. “Pokoknya cukup untuk menikmati hidup,” kata ayah dari Tio dan Yoga ini, kalem. Kendati demikian, ia mengembalikan keuntungan ke masyarakat dalam bentuk edukasi. Oleh karena prospek bisnis yang nilainya luar biasa, kurang dari sepuluh tahun mendatang, ia berencana mendaftarkan perusahaannya ke lantai bursa. Sekali mendayung, perusahaan bisa mengupayakan kebersihan lingkungan, mendapatkan energi alternatif, dan tentu saja mengumpulkan pundi-pundi kekayaan.



Ari Windyaningrum

on Warta Ekonomi

Thursday, September 11, 2008

The Double-Digit Inflation Club

Juni 2008 lalu, Morgan Stanley merilis laporan yang mengungkapkan bahwa 50 dari 190 negara di dunia mengalami tingkat inflasi lebih dari 10% (double digit), sebagian besar di antaranya adalah negara berkembang. Ironisnya, enam dari sepuluh negara berpopulasi terbesar di dunia masuk menjadi anggota Double-Digit Inflation Club (DDIC), sebuah klub imajiner besutan Morgan Stanley, yakni India, Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Nigeria, dan Rusia. Enam negara ini menyumbang 42% dari total populasi dunia yang telah mencapai 6,7 miliar jiwa. Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa tingkat inflasi dua digit yang terjadi di negara DDIC merupakan yang terburuk sepanjang 35 tahun. Berbeda dengan kondisi era 1970an dimana inflasi terjadi karena dipengaruhi efek spiral upah buruh, kali ini inflasi dipicu oleh meroketnya harga pangan dan bahan bakar minyak. Menurut catatan IMF, selama Februari 2007 hingga Februari 2008, harga pangan telah melonjak 39%, terutama untuk komoditas gandum, kedelai, dan jagung. Saat ini tingkat inflasi global mencapai level 6%, sementara pada 2007 hanya berada di level 4%. Bank Pembangunan Asia (ADB) mengingatkan pemerintah negara-negara Asia untuk menekan tingkat inflasi agar tak mencapai kondisi terburuk: stagflasi.


India

Per akhir Juni 2008, tingkat inflasi di negara yang beribu kota di New Delhi ini mencapai level 11,05% (y-o-y), tertinggi sepanjang 13 tahun. Secara umum, inflasi dipicu oleh kenaikan harga BBM yang terjadi pada 5 Juni 2008 yang kemudian merembet pada naiknya harga komoditas dan produk manufaktur. Hal itu juga diperparah dengan terus melonjaknya harga baja yang banyak dipakai untuk pembangunan dan produksi mobil. Melonjaknya harga baja memberi kontribusi inflasi hingga 21%. Menteri Keuangan P. Chidambaram mengatakan bahwa inflasi dua digit akan terus berlangsung, paling tidak, sampai September. Untuk itu, pemerintah melakukan beberapa kebijakan moneter, di antaranya meningkatkan tingkat suku bunga bank – untuk kedua kalinya tahun ini dan meningkatkan rasio cadangan kas bank sentral (Reserve Bank of India, RBI) dari 8,25 menjadi 8,75%.


Indonesia

Keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM, akhir Mei lalu, yang berakibat pada meningkatnya harga bahan pokok dan produk manufaktur, telah mengerek tingkat inflasi menembus level 11% (y-o-y). Bank Indonesia memprediksi inflasi akan terus berada di level dua digit, bahkan mencapai level 11,5% hingga 12,5% pada akhir 2008. Untuk mengantisipasi, BI meningkatkan tingkat suku bunga (BI rate) hingga empat kali, masing-masing 25 basis poin, hingga mencapai level 9%. Hal ini adalah upaya bank sentral untuk menghindari overheating economy. Deputi Gubernur Senior BI Miranda Goeltom mengatakan bahwa kenaikan BI rate diharapkan bisa membawa optimisme pasar. BI memprediksi inflasi akan turun dan mencapai 6,5% sampai 7,5%, pada 2009.


Pakistan

Pakistan mencapai rekor inflasi tertinggi sepanjang sejarah negara tersebut, yakni 24,3% (y-o-y), per Agustus 2008. Para analis mengingatkan bahwa tingginya inflasi bakal meresahkan penduduk miskin, karena kesulitan membeli bahan pokok yang harganya sudah melambung rata-rata 35% dibanding tahun sebelumnya. Setidaknya, satu dari empat warga Pakistan hidup di bawah garis kemiskinan. Untuk menekan laju inflasi, bank sentral (State Bank of Pakistan, SBP) telah meningkatkan tingkat suku bunga mencapai 13%. Selain itu, gubernur SBP Shamshad Akhtar juga mengingatkan pemerintah agar tidak meminjam dana dari bank sentral untuk menutupi defisit anggaran.


Bangladesh

Eskalasi harga pangan dan minyak dunia mendorong inflasi dua digit di Bangladesh. Per Agustus, tingkat inflasi mencapai 10,12%. Sejatinya, level tersebut sudah turun dari puncaknya, 11,21% yang terjadi pada November 2007, tertinggi sejak 17 tahun lalu. Untuk mengatasi hal tersebut, bank sentral Bangladesh menerapkan kebijakan moneter lebih ketat, seperti meningkatkan suku bunga bank yang terjadi secara berkala selama dua tahun terakhir.


Nigeria

Bank sentral Nigeria (Central Bank of Nigeria, CBN) menetapkan tingkat suku bunga 10,25% untuk mengatasi inflasi yang mencapai level 12% di negeri yang beribu kota di Lagos ini. Gubernur CBN Chukwuma Soludo menegaskan kebijakan moneter yang ketat adalah cara paling ampuh untuk mengatasi laju inflasi yang makin tinggi. Selain itu, pada 5 Agustus 2008 lalu, ia menyerukan tiap bank untuk memublikasikan tingkat suku bunga pinjaman untuk tiap sektor di situs perusahaan atau media massa, secara berkala. Menurut Soludo, kebijakan transparansi ini akan menciptakan kompetisi antarbank yang sehat dan bisa menimbulkan efek positif pada rezim suku bunga. Ia memprediksi Nigeria masih akan mengalami inflasi dua digit hingga akhir 2008.


Rusia

Kementerian Ekonomi Rusia merevisi tingkat inflasi menjadi 11,8% per akhir tahun, dari semula 10,5%. Deputi menteri ekononomi Andrei Klepach mengatakan bahwa tingkat inflasi sudah mulai turun dari puncaknya yang menembus 15%, pada awal tahun. Klepach menuturkan hal ini terjadi karena pemerintah berhasil memperlambat beredarnya suplai uang hingga 31,2% per 1 Juli 2008, berkat suku bunga bank yang tinggi. Bank sentral menetapkan suku bunga 11%, dari sebelumnya 10%. Selain itu, bank sentral juga menetapkan kebijakan nilai tukar yang memperbolehkan rubel berfluktuasi terhadap dollar atau euro, namun tetap dibatasi koridor tertentu.


Filipina

Gubernur bank sentral Filipina (Bangko Sentral ng Pilipinas, BSP), Amando Tetangco menuturkan bahwa inflasi dua digit yang melanda negeri itu akan berlanjut hingga kuartal I 2009. Per Juni 2008, tingkat inflasi di Filipina mencapai 11,6%, tertinggi selama 14 tahun. Ia memprediksi bahwa angka itu akan terus meningkat karena inflasi belum mencapai titik puncak 12%. BSP sendiri telah dua kali menaikkan tingkat suku bunga, hingga total 75 basis poin, menjadi 7,75%.


Vietnam

Pada Februari lalu, Vietnam mengalami tingkat inflasi 15,7%. Kenaikan harga pangan yang ditekan oleh meningkatnya harga makanan pokok hingga 25% dan kenaikan harga perumahan serta bahan material hingga 16%, telah mengerek inflasi ke tingkat tertinggi sejak 12 tahun. Otoritas keuangan setempat khawatir dampak inflasi akan memperburuk stabilitas negara, termasuk maraknya demo buruh yang memprotes upah yang tak lagi bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Chief economist UNDP yang berbasis di Hanoi, Jonathan Pincus menuturkan bahwa Vietnam terimbas oleh menguatnya renminbi atas dollar, dengan kata lain negara tersebut “mengimpor inflasi” dari Cina. Bank sentral Vietnam melakukan langkah-langkah mengerem likuiditas di sistem finansial, seperti meningkatkan suku bunga hingga 14% dari sebelumnya 12%, mengharuskan bank komersial meningkatkan cadangan dana, serta meminta bank dan lembaga kredit untuk membeli treasury bill dengan bunga 7,8%. Sayangnya, strategi itu menimbulkan protes dari kalangan perbankan.


Ethiopia

Negeri miskin di benua hitam Afrika ini masih terbelit masalah kemiskinan dan kekacauan dalam negeri. Economist Intelligence Unit memprediksi inflasi dua digit akan terus membayangi, dengan rata-rata 28%, selama 2008 akibat kenaikan harga pangan dan minyak. Puncak inflasi terjadi pada April 2008, yakni 38,1% (y-o-y) yang diakibatkan oleh kenaikan harga bahan pokok sebesar 43,7%. Untuk menghindari inflasi yang terus memburuk Bank sentral Ethiopia (National Bank of Ethiopia, NBE) melakukan kebijakan moneter yang ketat dan berusaha menurunkan harga pangan agar target inflasi 15% bisa tercapai tahun depan. Di lain sisi, pihak oposisi meminta NBE membersihkan diri dari korupsi dan melakukan good corporate governance.


Mesir

Parlemen Mesir menyetujui kenaikan harga bensin, cukai rokok, dan pajak kendaraan bermotor pada 2 Mei 2008 lalu, demi mencukupi anggaran belanja gaji pegawai negeri. Namun, kenaikan harga pangan dan bahan bakar yang terjadi secara global membuat Mesir tak kuasa menahan inflasi yang mencapai rekor 22%, pada Juli 2008. Terburuk sejak 1992. Untuk menghadapi kemungkinan terburuk, bank sentral Mesir telah merevisi tingkat suku bunga sampai lima kali, tahun ini hingga mencapai 11% per 8 Agustus 2008.


Zimbabwe

Inilah negeri yang mengalami inflasi paling parah di dunia dalam satu dekade terakhir. Tak sekedar dobel digit, tapi 2.200.000%, year on year, per Agustus 2008. Ya, inflasi di Zimbabwe mencapai dua juta dua ratus persen! Untuk menyiasati kelebihan uang beredar, pemerintah menerbitkan pecahan uang dengan nominal amat besar, di antaranya pada Mei 2008 bank sentral Zimbabwe mencetak pecahan $500 juta yang hanya bernilai US$2, atau hanya untuk sekali makan. Sementara pada 20 Juli 2008, bank sentral Zimbabwe menerbitkan pecahan $100 miliar, pecahan uang dengan nominal terbesar di dunia. Di ibukota Harare, karyawan toko amat sibuk mengganti label harga karena naiknya harga barang melambung dalam hitungan menit, bahkan detik. Ke depan, pemerintah setempat berencana akan menghapus nol yang ada di uang pecahan yang baru diterbitkan itu, dari $10 miliar menjadi $1. ###


Ari Windyaningrum

on Warta Ekonomi