Showing posts with label mittran. Show all posts
Showing posts with label mittran. Show all posts

Friday, September 12, 2008

Segenggam Berlian dalam Timbunan Sampah

Saat Anda membaca tulisan ini, cobalah merenung, berapa banyak sampah yang telah Anda hasilkan hari ini? Mulai remah-remah roti sisa sarapan, koran pagi yang takkan dibaca ulang, hingga botol plastik bekas air mineral. Menurut catatan Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, tiap orang di kota ini menghasilkan sampah rata-rata 2,9 liter per hari. Dengan penduduk sekitar 12 juta jiwa, termasuk para komuter, tiap hari akan tercipta 26.945 m3 atau sekitar 6.000 ton sampah. Kalau seluruh sampah tadi ditumpuk di taman Monumen Nasional (Monas) yang luasnya 110 hektar, niscaya dalam 40 hari taman itu bakal beralih rupa menjadi timbunan sampah setinggi satu meter!


Alih-alih diolah menganut prinsip reuse, reduce, recycle, sampah tadi hanya dibuang begitu saja di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang. Jika tak memperhitungkan daya tampung, bukan tak mungkin kasus longsornya timbunan sampah yang menewaskan warga sekitar akan terulang kembali. Kabar terbaru, kini ada enam perusahaan asal Australia, Cina, Jepang, Korea Selatan, Kanada, dan Singapura yang tengah berebut proyek pengelolaan sampah di Bantar Gebang. Mereka mengaku mampu mengolah dan menghasilkan kredit karbon sesuai konsep mekanisme pengembangan kebersihan (clean development mechanism, CDM).


Sejatinya, di pinggiran Jakarta, ada Hidayat yang mampu mengelola sampah sesuai konsep CDM tadi. Di bawah naungan Yayasan Rumah Perubahan, PT Mitratani Mandiri Perdana (Mittran) miliknya telah melakukan hal-hal yang dijanjikan para pengusaha asing tadi sejak dua tahun silam. Ia bahkan mampu memasok biomasa untuk beberapa perusahaan.


Sampah ditukar susu

Semula, Hidayat adalah pemasok bunga krisan ke supermarket Hero. Selain itu, sejak 1993, ia juga memproduksi mesin pengolah sampah, seperti mesin pencacah plastik atau pengepres sampah. Tetapi, kemudian ia menemui fakta bahwa sebagian besar mesin yang dijualnya ternyata hanya menjadi pajangan semata. Pembeli, yang kebanyakan berasal dari sejumlah pemerintah daerah, tak mengoptimalkan pengoperasiannya. “Daripada mesin mangkrak di gudang, mengapa perusahaan tak sekalian menawarkan jasa pengelolaan sampah?” pikir Hidayat, kala itu.


Sebagai langkah awal, Hidayat menawarkan konsep waste management di lingkungan sekitar tempat tinggalnya, di kawasan Jatimurni, Bekasi. “Resistensi warga besar sekali,” keluh dia. Hingga kemudian, pria kelahiran Magelang, 26 Agustus 1963 ini meminta ijin kepada ketua RT/RW setempat untuk memasang tong sampah di jalan-jalan utama kampung yang banyak dihuni masyarakat kelas sosial bawah. Satu bulan pertama, tiap pagi, karyawan Mittran mengambil sampah. Sebagai perkenalan, ia tak memungut biaya sepeser pun. Usai satu bulan, di depan rapat warga, ia menawarkan opsi: masyarakat akan terus memakai jasanya untuk membersihkan lingkungan atau tidak. Hasilnya, bisa diduga. Seluruh warga mufakat meneruskan memakai jasa Mittran. Sebagai pengusaha, ia lalu menuturkan bahwa layanan ini tidak gratis.


Tiap tong sampah, ia memungut biaya retribusi Rp30.000 per bulan. Satu tong bisa dipakai bersama atau secara individual. Katakan, enam keluarga memakai satu tong, berarti tiap KK hanya perlu membayar Rp5.000 tiap bulan. Nantinya, dengan menggunakan mobil pick up, pekerja Mittran hanya akan mengambil sampah yang dimasukkan ke dalam tong, jikalau ada yang tercecer, mereka akan meninggalkannya tetap di tempat semula. “Saya ingin mengajak masyarakat memperhitungkan seberapa banyak sampah yang mereka hasilkan tiap harinya,” papar Hidayat. Jadi, bila warga hendak menebang pohon atau mengadakan hajatan yang sekiranya akan menghasilkan sampah lebih banyak dari biasanya, mereka harus berkoordinasi dengan pihak Mittran.


Nah, agar sampah tak meluber ke luar tong, pihak perusahaan menawarkan barter untuk barang yang dapat di-recycle, seperti buku telepon, koran bekas, atau botol kecap. Tiap kilogram, perusahaan memberi nilai Rp500 yang bisa ditukarkan dengan telur, mi instan, atau susu. Menurut suami Kusmayawati ini, program itu bisa merangsang masyarakat memilah sampah yang akan dibuang.


Pilihan memakai tong, bukan bak sampah dari semen, dan menempatkannya di jalan-jalan utama, tidak termasuk di gang sempit, ternyata demi sebuah efisiensi. Hidayat memperhitungkan waktu untuk mengolek satu tong sampah hanya 1,2 menit. Bandingkan dengan bak sampah yang membutuhkan 6 menit karena petugas harus mengais lebih dalam. Ini berarti, dalam satu jam, petugas Mittran mampu mengolek 40-50 tong. Jika jam operasional para petugas hanya enam jam, maka mereka bisa mengambil sampah dari 300 tong dalam satu wilayah yang dihuni 1.500 keluarga. “Kami menerapkan sistem seperti PLN. Jika warga lalai membayar retribusi, maka pihak perusahaan akan mencabut tong tersebut dan membiarkan sampah terserak di depan rumah mereka,” ucap anak tunggal yang dibesarkan di lingkungan keluarga TNI ini. Tong tersebut, lanjut dia, merupakan milik perusahaan.


Selain menangani sampah di wilayah Jatimurni, Mittran juga melayani waste management di perumahan di kawasan Cinere, Cibubur, dan Citereup, selain Pasar Ciroyom. “Kalau sekedar membeli mesin pengolah sampah, konsumennya datang dari seluruh penjuru Indonesia,” tutur lulusan FE Universitas Indonesia ini, bangga. Saat ini, Mittran kewalahan dengan permintaan dari pengembang perumahan yang kepincut dengan gaya perusahaan mengelola sampah. Meski demikian, perusahaan tak mengambil semua peluang. Pasalnya, volume sampah masuk tempat pengolahan harus seimbang dengan kapasitas mesin pengolah, agar tak terjadi penimbunan. Tiap hari, Mittran baru mampu mengelola 7,5 ton sampah.


Hukum kekekalan energi

Setelah mengolek sampah, mobil pick up segera meluncur ke tempat pengolahan. Di tempat itu, sampah segera dimasukkan ke mesin sortasi. Sampah organik akan dijadikan kompos. Sedangkan sampah anorganik akan mengalami proses lebih panjang, yakni melewati mesin pencacah dan pencuci. Hasilnya pun ada dua opsi, sampah plastik yang kondisinya masih bagus akan dijual untuk didaur ulang pihak lain, sementara sampah yang tidak bisa diapa-apakan lagi akan dipadatkan untuk dijadikan energi terbarukan (biomasa). Sayangnya, dari permintaan 10.000 ton biomasa dari Indocement, Mittran baru bisa memenuhi 300 ton, tiap bulannya. Ini belum termasuk permintaan dari Holcim dan beberapa pabrik gula. “Mereka memilih biomasa selain didasari oleh makin mahalnya BBM, juga ingin mendapatkan karbon kredit,” ungkap Hdayat. Saat ini pihaknya tengah menjajaki kerjasama dengan Jepang untuk teknologi pengubah plastik – sebuah produk derivatif dari minyak bumi – menjadi solar dan pengekstraksi gas metan yang terkandung dalam sampah.


Saat ini Mittran mempekerjakan 25 karyawan di bagian manajemen, dan puluhan tenaga lepas yang bekerja di tempat pengolahan. Untuk mengepak kompos, misalnya, perusahaan menerima pengangguran yang dibayar Rp100 untuk tiap kantong yang dihasilkan. Pagi hari mereka menaruh KTP, sore hari mereka bisa mengambil kembali kartu identitasnya plus uang hasil jerih payah. Di bawah naungan Yayasan Rumah Perubahan, pihak Mittran kini tengah mengadakan program penciptaan 1.000 entrepreneur sampah. Mereka mendidik calon pengusaha yang tertarik mengembangkan bisnis ini di wilayah lain. “Ini adalah peluang bisnis yang luar biasa. Kalau dikelola dengan benar, sampah bisa menjadi amat berharga,” tandas Roy Kuntjoro, mitra Hidayat di Rumah Perubahan.


Kala planet ini mengalami krisis energi, masyarakat pun makin kreatif untuk mencari sumber energi alternatif. Seorang Hidayat mampu berpikir dan bertindak out of the box dengan menjalankan waste management di lingkungan perumahan. Pada dasarnya, bisnis Mittran berpijak pada hukum kekekalan energi, dan Hidayat dengan cerdas membungkusnya dengan teori bisnis. “Sekarang, kalau melihat daun jatuh dari pohon, saya langsung berpikir ah itu energi, kalau kita olah, bisa dapat duit,” kata Hidayat, terbahak. Penggemar biliar ini menyayangkan potensi energi dan bisnis yang tersimpan dalam gunungan sampah di TPA Bantar Gebang, Leuwigajah, atau Keputih, tapi tak dimanfaatkan secara optimal. “Daripada susah-susah menggali batubara dalam perut bumi, mengapa tidak mendapatkannya dari sampah yang ada di sekitar kita?” tanyanya.


Meski enggan menyebutkan nominal omzet perusahaan, menurut taksiran Warta Ekonomi, Mittran mendapatkan setidaknya Rp225 juta per bulan. Ini belum termasuk pendapatan dari penjualan mesin, retribusi sampah, biaya pendidikan calon entrepreneur sampah, dan fee dari perusahaan pemakai jasanya. “Pokoknya cukup untuk menikmati hidup,” kata ayah dari Tio dan Yoga ini, kalem. Kendati demikian, ia mengembalikan keuntungan ke masyarakat dalam bentuk edukasi. Oleh karena prospek bisnis yang nilainya luar biasa, kurang dari sepuluh tahun mendatang, ia berencana mendaftarkan perusahaannya ke lantai bursa. Sekali mendayung, perusahaan bisa mengupayakan kebersihan lingkungan, mendapatkan energi alternatif, dan tentu saja mengumpulkan pundi-pundi kekayaan.



Ari Windyaningrum

on Warta Ekonomi