Sunday, January 14, 2007

Indonesia Economy 2007: Back to the Future

Indikator fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan kinerja yang membaik. Namun, kinerja sektor riil justru stagnan. Bahkan, yang lebih menyedihkan, di awal 2007 kita justru mendengar kabar banyak penduduk miskin mengonsumsi nasi aking karena harga beras melonjak tajam.

Kalau melihat indikator ekonomi makro, memang makin baik. Nilai tukar rupiah makin kuat di akhir 2006, dibanding awal tahun lalu. Tapi, hati-hati jika terjadi apresiasi nilai rupiah. Bisa menurunkan daya saing ekspor nasional.

Angka inflasi dapat diturnkan secara drastis dari sekitar 16% pada Januari 2006, menjadi sekitar 8% di awal tahun ini. Dan, proyeksi inflasi tahun ini maksimal 7%. Cadangan devisa yang pada awal tahun lalu sekitar US$35 milyar, kini mencapai US$41 milyar.

Rasio utang terhadap PDB berada di kisaran 42%. Angka ini lebih rendah dibanding dengan 2005 sebesar 45%. Rasio ini mungkin sangat besar lebih rendah pada 2007 ini. hal ini menunjukkan ketahanan fiskal Indonesia yang makin baik.

Karena itu, peringkat utang Indonesia, yang dinilai oleh badan independent internasional, dinaikkan. Standard & Poor’s, misalnya, pada awal 2006 memberikan peringkat B+ dan pada November lalu ditingkatkan menjadi BB.

Indeks harga saham gabungan Bursa Efek Jakarta melejit. Jika pada Januari 2006 IHSG sebesar 1.389, maka saat ini mencapai 1.700.

Tapi, lagi-lagi, dalam hal ini kita masih harus hati-hati, karena 2/3 hingga 3/4 pembeli saham berasal dari luar negeri, sehingga ketergantungan terhadap pembeli asing sangat dominan.

Peningkatan cadangan devisa antara lain ditunjang oleh perbaikan kinerja ekspor, meski peningkatan tersebut lebih banyak berasal dari komoditas berbasis alam, seperti kelapa sawit dan berbagai barang tambang.

Sebaliknya, daya saing sektor manufaktur, seperti garmen, elektronika dan industri alas kaki menunjukkan penurunan.

Jangan 0%
Ukuran utama indikator sektor riil, bagaimanapun adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi pada 2006 mencapai 5,4%, lebih rendah dari target semula 5,8%.

Bahkan jika pertumbuhan ekonomi 2006 yang hanya 5,4% itu, maka sejatinya lebih rendah daripada 2005 yang mencapai 5,6%. Meski lebih tinggi dari 2004 sebesar 4,9%.

Pertumbuhan ekonomi nasional masih didominasi oleh konsumsi domestik, baik masyarakat maupun pemerintah. Disamping ditentukan oleh kegiatan dunia usaha.

Volume produksi perusahaan disesuaikan dengan konsumsi domestik dan untuk ekspor. Komsumsi domestik ditentukan oleh daya beli masyarakat dan pembelian pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Penjualan ekspor sangat bertangung pada daya saing, jejaring pasar internasional dan insentif ekspor. Makin kuat daya beli masyarakat, akan makin meningkatkan penjualan berbagai barang dan jasa konsumsi sehari-hari, maupun untuk investasi seperti properti.

Kenaikan atau penurunan investasi, baik domestik maupun asing, merupakan indikator ekspansi dunia usaha. Berbagai indikator menunjukkan bahwa minat investasi di Indonesia melamban. Jika tak mau dikatakan menurun.

Karena itu, tak usah aneh jika pertumbuhan impor barang modal menunjukkan angka yang negatif.

Sumber pembiayaan yang penting untuk menggerakkan ekonomi nasional berasal dari dana yang dikeluarkan APBN. Daya serap pengeluaran lewat APBN untuk belanja barang dan modal juga masih terbatas. Dan tahun ini diperkirakan hanya mencapai 70% dari anggaran yang disediakan.

Malah, yang lebih merisaukan, adanya sejumlah proyek yang dibiayai dari pinjaman dan hibang luar negeri. Daya serap proyek-proyek tersebut lebih rendah dan mungkin hanya setengah dari dana yang tersedia.

Dalam kaitan ini, kesalahan tidak selalu berada di pihak Indonesia, tetapi pihak luar negeri memberikan syarat yang terlalu berbelit. Ini karena persepsi Indonesia merupakan negara yang tingkat korupsinya tinggi.

Sumber pembiayaan bagi dunia usaha yang penting adalah kredit perbankan. Total kredit perbankan pada awal 2006 mencapai Rp175 trilyun dan akhir tahun lalu sekitar Rp800 trilyun.

Dengan demikian, pertumbuhan kredit hanya mencapai 11%. Padahal, Bank Indonesia menargetkan ekspansi kredit 18%-20%.

Loan to deposit ratio (LDR) saat ini berada di kisaran 65%, sama seperti 2005. Angka ini lumayan jika dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Jika diamati, alokasi kredit perbankan tiga terakhir ini tidak meunjukkan angka perubahan di sektor pertanian. Tapi, sektor perdagangan dan jasa menunjukkan kenaikan. Sebaliknya, sektor manufaktur justru menurun.

Peningkatan kredit untk perdaganan dan jasa akan memberi andil positif bagi kegiatan ekonomi nasional, jika barang yang diperdagankan dari produksi domestik. Tapi, nyatanya, banyak barang impor, baik legal maupun ilegal.

Meski perdagangan bebas sudah menjadi mode global, jangan tanpa batas. Kita tetap harus membantu pengusaha dalam negeri, dan jangan kita obral impor apa saja dengan bea masuk 0%. Ini bakal mematikan industri domestik.

Wednesday, January 10, 2007

letter cut love

Sri, an ordinary girl from Selotinatah village of Magetan, has bule boyfriend. His name is Michael, from London, UK. Sri cannot stand with Mike's betrayal. He has affairs! Here is Sri's letter, using English which was translated word by word from Indonesian. Don't find the mistakes, just enjoy hehehehe...

Mike,

Hi, my motive write this letter is to give know you something (hai, bersama surat ini saya ingin memberi tahu sesuatu).

I want to cut connection us (saya ingin memutuskan hubungan kita). I have think about this very cook cook (saya telah memikirkan ini masak-masak). I know I clap one hand only (saya tahu bahwa saya hanya bertepuk sebelah tangan). Correctly, I have seen you and she together at town with my eyes and head myself (sebenarnya, saya pernah melihat kamu bersama perempuan lain di kota dengan mata kepala saya sendiri).

You always ask for apology back back (kamu selalu minta maaf berulang-ulang), but I don't trust you again (saya tidak percaya kamu lagi). You are really crocodile land (kamu benar benar buaya darat).

My Friend speak you play with fire (teman saya bilang kamu bermain api). Now I know you correct correct play with fire (sekarang saya tahu kamu benar-benar bermain api). So, I break connection to pull my body from this love triangle (jadi saya putuskan saja hubungan untuk menarik diri dari cinta segitiga ini).

I know this result I pick is very correct, because you love she very high from me (saya tahu keputusan yg saya ambil ini benar, karena kamu mencintai dia lebih tinggi dari saya).

So, I break off to go far from here (jadi saya putuskan untuk pergi dari sini). I have been crying until no more eye water thinking about you (saya menangis sampai tidak ada lagi air mata memikirkan kamu). I don't want fall with banana two times (saya tidak mau terpeleset untuk kedua kalinya).

Safe walk... (selamat jalan..)

Full Love (penuh cinta),
Sri

You might be Indonesian if…

  1. You carry your cellular phone even to ‘no service’ area
  2. You still switch your cellular phone on while you are in the meeting
  3. You don’t mind people being late
  4. Your stomach growls when you don’t eat rice for a day
  5. You believe ‘Kecap Bango’ could turn bad cooking to gourmet food
  6. You carry a 16 oz/jar of sambalto where you travel
  7. You are willing to travel 25 miles to buy tahu and tempe
  8. Your local Mc Donald’s serves rice and sambal
  9. You complain that movies in the TV don’t have sub-titles
  10. You talk during a movie
  11. You think ‘dangdut’ music is stupid, however listen to it anyway
  12. You have (at least once) legally bought pirate software
  13. You have been forced to memorize UUD’45
  14. You know exactly how many islands Indonesia has
  15. The first thing that comes to mind when hearing the word ‘Jakarta’ is ‘macet
  16. Someone you know has ever ridden on top of a train
  17. You use the terms ‘capek deh’, ‘please deh’ or ‘basi’ on daily basis
  18. You miss your maid during Lebaran day
  19. You left wedding only until you are done eating
  20. You have attended weddings that you are uninvited
  21. You manage to buy expensive stuff over your salary capability
  22. You do shopping in Singapore
  23. You have more credit cards than what your wallet can handle
  24. You realize that money is everything before you were six
  25. You make major decision based on ‘gengsi

So, if you are one of the above list…
…you must be an original Indonesian!


Wednesday, December 20, 2006

“Harga” Seorang Manusia

Tiap negara menetapkan batas minimum upah yang harus dibayarkan kepada pekerja. Tentu saja, semua disesuaikan dengan kemakmuran negara dan kemampuan daya beli warga negara bersangkutan. Dan, ketika aku harus menulis untuk rubrik Komparasi di majalahku, aku menemukan fakta-fakta gila. Ada perbandingan yang cukup fantastis dari "harga" seorang pekerja.

Satu bulan vs satu jam
Tiap bulan, seorang pekerja pabrik di Kuba mendapatkan bayaran 255 Peso – atau bila dikonversi menjadi Rp81 ribu. Jumlah tersebut sama dengan upah yang diterima seorang pekerja Inggris tiap jam! Tentu saja, bila dilihat dari tingkat kemakmuran, kedua negara itu berbeda jauh. Saat ini, mereka yang tinggal di Havana mempunyai kemampuan daya beli US$3.300 sementara, rekan sejawat yang bermukim di London berkemampuan daya beli hampir sepuluh kali lipatnya, US$30.900.

Satu pekerja = 160 pekerja
Kebanyakan, pekerja yang tidak terlatih (unskilled worker) mendapatkan upah paling rendah. Untuk mengerjakan sebuah proyek konstruksi di Dhaka, misalnya, seorang kuli bangunan biasa dibayar 700 Taka (Rp126 ribu) per bulan. Sementara, untuk kualifikasi yang sama, seorang kuli bangunan di Kopenhagen bisa mendapatkan bayaran 14 ribu Krone (Rp20,16 juta) tiap bulan. Jika mengindahkan nilai tukar dan kondisi ekonomi negara, satu kuli bangunan Denmark seharga 160 kuli bangunan Bangladesh.

Indonesia : Rusia : AS
Di Jakarta, pekerja berhak mendapatkan upah minimal Rp819.100, lebih besar dari sejumlah daerah di Indonesia. Bila dalam kondisi cateris paribus, apa yang diterima pekerja di Indonesia lebih baik daripada pekerja Rusia. Tiap bulan, pekerja di negara Beruang Merah ini mendapat upah 1100 Rubel, sekitar Rp342 ribu, sepertiga dari UMP DKI Jakarta. Namun, bila dibandingkan dengan standar pekerja AS, apa yang didapat pekerja Indonesia jauh tertinggal. Per jamnya mereka dibayar US$5.15 (Rp46 ribu), sementara pekerja di tanah air ini hanya mendapat sekitar Rp5 ribu, hanya sepersembilannya.

Upah vs harga sepatu
Beberapa pengusaha menganggap pekerja Vietnam mau diupah minim. Itu yang menyebabkan sejumlah pabrik merelokasi pabriknya ke negara tersebut. Dalam sebuah laporan yang dirilis baru-baru ini, upah minimum seorang pekerja pabrik sepatu di Hanoi adalah Rp378 ribu tiap bulannya. Sementara, harga sepatu Nike mencapai Rp1,3 juta sepasang. Dengan kata lain, upah yang diterima pekerja tiap bulannya, hanya sepertiga dari harga jual sepasang sepatu yang dikerjakannya, di pabrik. Mak!

Dogma

Kepercayaan adalah dogma. Dogma selalu melahirkan fanatisme sempit. Nyaris tak ada logika di sini. Kepercayaan tak memberi ruang untuk berdialog dan berdiskusi. Dia mutlak dan menjadi radiks dari penalaran awal manusia dalam mendekatkan diri pada Yang menguasai dirinya di luar dirinya.

Kepercayaan macam ini dikenal sebagai bagian dari peradaban purba. Masa di mana manusia terputus dari "aliran baik" alias agama wahyu, mengakrabi alam, menyatukan diri dan menangkap vibrasi alam sebagai tanda tentang sesuatu yang bakal terjadi di masa depan.

Hebatnya, di tengah akselerasi modernisasi, paham primitif ini justru muncul sebagai pesaing percepatan teknologi. Dia negator yang bisa menjungkirbalikkan realitas akal manusia.

Thursday, December 7, 2006

Antara Presiden dan Presiden Direktur

Sebagai pemimpin negara dan pemerintahan, Presiden --atau Perdana Menteri-- memiliki tanggung jawab luar biasa. Namun, ironisnya bayaran yang mereka terima kadang tidak setimpal. Misalnya, gaji pokok presiden ternyata berada jauh di bawah standar gaji CEO perusahaan.

Indonesia
Pemerintah RI tidak berencana menaikkan gaji presiden. Untuk 2006, Presiden masih akan menerima gaji sebesar Rp362,88 juta per tahun. Nilai tersebut setara dengan enam kali gaji pokok tertinggi pejabat negara lainnya. Namun, bila dibandingkan dengan gaji pokok seorang CEO, nilai yang diperoleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono "tidak ada apa-apanya". Menurut taksiran, rata-rata gaji eksekutif level atas di Indonesia adalah Rp1,8 miliar per tahun.

Amerika Serikat
AS boleh bangga dianggap sebagai negara adidaya dan kiblat kapitalis dunia. CEO termahal sedunia pun bermukim di sana. Misalnya Jeff Immelt, CEO General Electric, mendapat bayaran US$3 juta per tahun. Itu di luar bonus US$5,3 juta yang diterimanya tiap tahun. Bandingkan dengan gaji George W. Bush yang hanya US$400.000 per tahun.

Filipina
Negara yang beribu kota di Manila ini membayar presidennya 300.000 peso atau setara Rp54 juta per tahun. Sementara CEO San Miguel diperkirakan mendapat bayaran hampir tiga kali lipatnya, 960.000 peso atau Rp172 juta setahun.

Inggris
Tony Blair selama ini tidak pernah mendapat gaji untuk jabatan Perdana Menteri, melainkan untuk titel First Lord of the Treasury yang disandangnya. Tahun ini ia mendapat jatah US$303.000 untuk setahun penuh. Nilai itu menjadi sangat kecil bila dibandingkan dengan gaji CEO Vodafone yang mencapai US$1,44 juta per tahunnya.

Nah! Ketika menulis berita ini, aku lalu berpikir: apa ini yang menjadi biang mengapa banyak pejabat negara korup? Wong presidennya saja gajinya hanya segitu.. Gimana bawahannya?

Ide gila terlintas, mungkin kalau pemerintahan mengadaptasi gaya perusahaan, gaji pejabat pemerintahan boleh setara dengan pegawai korporasi. Tapi, mereka juga harus rela lembur nyelesein detlen proyek, sukur-sukur kalo mereka ngrasain potong gaji kalau telat masuk kantor hehehe... Cekrek!

Woman execs paid less: close eyes, reach in hat, pick reason

Filed under: Bad news, Press releases, Management, Television, Magazines, eBay (EBAY), PepsiCo (PEP)

I want, oh so deeply, to be shocked. But I'm not. Here's the thing: women are powerful! Women are amazing! Women are reaching the upper echelons of corporate America! Hurray! And while I'm sure everyone at NOW threw a soda party when Indra Nooyi took over as CEO of PepsiCo, Inc., I'm sure they also tried to get mad about today's "news": male executives make way more than female executives. And then I imagine they remembered: this is nothing new. This is nothing surprising.

Women have been making less than men since the dawn of time. And although Oprah and Indra and Meg are so darned powerful, they can hardly sway the enormity of gender history in a few decades of exerting their collective feminine force.

Let's try one reason female CEOs, CFOs and the like make pocket change compared to their male brethren (and no, there seems to be no relation between executive pay and corporate profit, sales, stock performance, or how many pageviews your bio on the corporate homepage got this year): there just aren't as many of them. Naturally that doesn't explain why (for instance) the top-paid female executive, Safra Catz -- president and CFO Oracle Corporation -- made a sad 36% of what the top-paid male executive made (that's Eugene Isenberg, CEO of Nabors Industries Ltd., for the record). Catz wasn't even the highest-paid executive at her own company, pulling in about half of what founder and CEO Larry Ellison scored.

Well. That is Larry Ellison after all. His ego has to be worth at least as much as three women executives put together.

And, in fact, Larry is worth three women CEOs; 3.22x eBay, Inc. CEO Meg Whitman's pay, that is.

Because it's fun (or maddening, depending on whether or not you're me, or one of those aforementioned NOW members) to wonder why, and make lists, here is a list of reasons why women make so much less than men:

  • Women don't negotiate as well as men do. Don't hate me for saying it, it's true. Since executive pay isn't established by the Federal Reserve Board, but instead by handshakes over shrimp cocktail and dirty martinis at Sparks, negotiating is the biggest reason why CEO X makes more than CFO Y.
  • Women don't value themselves as highly as men do. You have to have unmitigated gall to believe anything you can do is really worth $50 million a year. Very few women have such cajones.
  • Women aren't in the workforce as long as men are, on average. A few years off for maternity leave, and presto, earning power cut in half? Maybe it seems a bit harsh, but someone has to bear the overpaid CEOs of tomorrow!
  • On average, women executives manage smaller companies. Naturally, given the weak connection between corporate revenue and pay, this doesn't really explain anything. But it's a nice place to turn if you're on the compensation committee of Oracle's board and are feeling a bit guilty.
  • Women aren't as corrupt as men. Big paychecks such as those at Enron and Worldcom are typically hauled in by men. Just kidding! Turns out men and women are equally able to lie, cheat and steal.

What's your favorite reason why women make so much less than men?