Indikator fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan kinerja yang membaik. Namun, kinerja sektor riil justru stagnan. Bahkan, yang lebih menyedihkan, di awal 2007 kita justru mendengar kabar banyak penduduk miskin mengonsumsi nasi aking karena harga beras melonjak tajam.
Kalau melihat indikator ekonomi makro, memang makin baik. Nilai tukar rupiah makin kuat di akhir 2006, dibanding awal tahun lalu. Tapi, hati-hati jika terjadi apresiasi nilai rupiah. Bisa menurunkan daya saing ekspor nasional.
Angka inflasi dapat diturnkan secara drastis dari sekitar 16% pada Januari 2006, menjadi sekitar 8% di awal tahun ini. Dan, proyeksi inflasi tahun ini maksimal 7%. Cadangan devisa yang pada awal tahun lalu sekitar US$35 milyar, kini mencapai US$41 milyar.
Rasio utang terhadap PDB berada di kisaran 42%. Angka ini lebih rendah dibanding dengan 2005 sebesar 45%. Rasio ini mungkin sangat besar lebih rendah pada 2007 ini. hal ini menunjukkan ketahanan fiskal Indonesia yang makin baik.
Karena itu, peringkat utang Indonesia, yang dinilai oleh badan independent internasional, dinaikkan. Standard & Poor’s, misalnya, pada awal 2006 memberikan peringkat B+ dan pada November lalu ditingkatkan menjadi BB. Indeks harga saham gabungan Bursa Efek Jakarta melejit. Jika pada Januari 2006 IHSG sebesar 1.389, maka saat ini mencapai 1.700. Tapi, lagi-lagi, dalam hal ini kita masih harus hati-hati, karena 2/3 hingga 3/4 pembeli saham berasal dari luar negeri, sehingga ketergantungan terhadap pembeli asing sangat dominan.
Peningkatan cadangan devisa antara lain ditunjang oleh perbaikan kinerja ekspor, meski peningkatan tersebut lebih banyak berasal dari komoditas berbasis alam, seperti kelapa sawit dan berbagai barang tambang.
Sebaliknya, daya saing sektor manufaktur, seperti garmen, elektronika dan industri alas kaki menunjukkan penurunan. Jangan 0% Ukuran utama indikator sektor riil, bagaimanapun adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi pada 2006 mencapai 5,4%, lebih rendah dari target semula 5,8%. Bahkan jika pertumbuhan ekonomi 2006 yang hanya 5,4% itu, maka sejatinya lebih rendah daripada 2005 yang mencapai 5,6%. Meski lebih tinggi dari 2004 sebesar 4,9%.
Pertumbuhan ekonomi nasional masih didominasi oleh konsumsi domestik, baik masyarakat maupun pemerintah. Disamping ditentukan oleh kegiatan dunia usaha. Volume produksi perusahaan disesuaikan dengan konsumsi domestik dan untuk ekspor. Komsumsi domestik ditentukan oleh daya beli masyarakat dan pembelian pemerintah, baik pusat maupun daerah.
Penjualan ekspor sangat bertangung pada daya saing, jejaring pasar internasional dan insentif ekspor. Makin kuat daya beli masyarakat, akan makin meningkatkan penjualan berbagai barang dan jasa konsumsi sehari-hari, maupun untuk investasi seperti properti.
Kenaikan atau penurunan investasi, baik domestik maupun asing, merupakan indikator ekspansi dunia usaha. Berbagai indikator menunjukkan bahwa minat investasi di Indonesia melamban. Jika tak mau dikatakan menurun.
Karena itu, tak usah aneh jika pertumbuhan impor barang modal menunjukkan angka yang negatif.
Sumber pembiayaan yang penting untuk menggerakkan ekonomi nasional berasal dari dana yang dikeluarkan APBN. Daya serap pengeluaran lewat APBN untuk belanja barang dan modal juga masih terbatas. Dan tahun ini diperkirakan hanya mencapai 70% dari anggaran yang disediakan.
Malah, yang lebih merisaukan, adanya sejumlah proyek yang dibiayai dari pinjaman dan hibang luar negeri. Daya serap proyek-proyek tersebut lebih rendah dan mungkin hanya setengah dari dana yang tersedia.
Dalam kaitan ini, kesalahan tidak selalu berada di pihak Indonesia, tetapi pihak luar negeri memberikan syarat yang terlalu berbelit. Ini karena persepsi Indonesia merupakan negara yang tingkat korupsinya tinggi.
Sumber pembiayaan bagi dunia usaha yang penting adalah kredit perbankan. Total kredit perbankan pada awal 2006 mencapai Rp175 trilyun dan akhir tahun lalu sekitar Rp800 trilyun.
Dengan demikian, pertumbuhan kredit hanya mencapai 11%. Padahal, Bank Indonesia menargetkan ekspansi kredit 18%-20%.
Loan to deposit ratio (LDR) saat ini berada di kisaran 65%, sama seperti 2005. Angka ini lumayan jika dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Jika diamati, alokasi kredit perbankan tiga terakhir ini tidak meunjukkan angka perubahan di sektor pertanian. Tapi, sektor perdagangan dan jasa menunjukkan kenaikan. Sebaliknya, sektor manufaktur justru menurun.
Peningkatan kredit untk perdaganan dan jasa akan memberi andil positif bagi kegiatan ekonomi nasional, jika barang yang diperdagankan dari produksi domestik. Tapi, nyatanya, banyak barang impor, baik legal maupun ilegal.
Meski perdagangan bebas sudah menjadi mode global, jangan tanpa batas. Kita tetap harus membantu pengusaha dalam negeri, dan jangan kita obral impor apa saja dengan bea masuk 0%. Ini bakal mematikan industri domestik.