Kepercayaan adalah dogma. Dogma selalu melahirkan fanatisme sempit. Nyaris tak ada logika di sini. Kepercayaan tak memberi ruang untuk berdialog dan berdiskusi. Dia mutlak dan menjadi radiks dari penalaran awal manusia dalam mendekatkan diri pada Yang menguasai dirinya di luar dirinya.
Kepercayaan macam ini dikenal sebagai bagian dari peradaban purba. Masa di mana manusia terputus dari "aliran baik" alias agama wahyu, mengakrabi alam, menyatukan diri dan menangkap vibrasi alam sebagai tanda tentang sesuatu yang bakal terjadi di masa depan.
Hebatnya, di tengah akselerasi modernisasi, paham primitif ini justru muncul sebagai pesaing percepatan teknologi. Dia negator yang bisa menjungkirbalikkan realitas akal manusia.
Wednesday, December 20, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment