Originally published on my magazine with the title Saudagar Minang: Dari Urang Minang untuk Ranah dan Rantau.
Seandainya ada manusia di bulan, pasti di sana ada rumah makan Minang. Pameo ini muncul karena Rumah Makan Padang muncul sebagai simbol eksistensi budaya Minang, yang bisa ditemui dapat di temui di seluruh penjuru kota di Indonesia, bahkan di dunia.
Menurut Wakil Ketua DPD asal Minang, Irman Gusman menyebut sifat egaliter dan mandiri melekat kuat dalam diri urang Minang. Sehingga tidak banyak di antara mereka yang mau terikat dengan orang lain. Itulah mengapa banyak di antara para perantau Minang yang memilih bekerja atau berusaha sendiri, seperti berdagang atau menjadi sopir ketimbang bekerja untuk orang lain. Bahkan, sejak era 1970an, saudagar Minang di rantau menguasai perdagangan ritel dan garmen. Pasar Tanah Abang dan Blok M menjadi saksi adalah ‘daerah kekuasaan’ orang Minang.
Selain berdagang, mereka memiliki tradisi merantau. Pepatah 'karatau madang di hulu babuah babungo balun, marantau buyuang dahulu di rumah paguno balun' dipegang teguh oleh pria Minang yang telah cukup umur. Artinya, seseorang belum berguna atau bermanfaat sebelum melakukan petualangan (merantau). Menurut Irwan Sjarkawi, tokoh Minang yang sukses sebagai seorang entrepreneur, sedari kecil orang Minang harus menguasai tiga hal, yakni mengaji (berkaitan dengan pendalaman agama), memasak (berkaitan dengan kemampuan menghidupi diri sendiri), dan bersilat (berkaitan dengan kemampuan mempertahankan diri). “Perpaduan tiga hal ini menjadikan orang Minang menjadi perantau ulung,”kata Irwan.
Kalau dilihat dari aspek sejarah, kebiasaan merantau yang dilaksanakan para pria ini ada hubungannya dengan sistem matrilineal yang dianut etnis Minang. Kekayaan keluarga serta kamar yang ada dirumah gadang dibagi menurut jumlah anak perempuan sedangkan anak laki laki menghabiskan waktunya di surau atau mesjid dan lapau. Keadaan ini membuat keinginan merantau ke negeri orang cukup tinggi bagi lelaki Minang yang sudah cukup dewasa. ”Merantau merupakan suatu sarana ujian bagi anak lelaki minang untuk menempa jiwa, kegigihan dan keuletan serta dalam meningkatkan derajat kehidupannya,” ujar Firdaus HB, Sekretaris Jenderal FSSM sekaligus Ketua Panitia Pelaksana FSSM 2008.
Ikatan Emosi dengan Kampuang Halaman
Sejatinya, urang Minang dikenal dengan sistem kekerabatan Minang yang sangat kuat. Mereka memegang falsafah anak dipangku, kemenakan dididik, orang kampong dipertenggangkan. Ini menandakan mereka memiliki kewajiban dan beban yang lebih berat, karena ketika Minang rantau berhasil dia memiliki kewajiban untuk menyumbang keluarga dan kampung halamannya. “Urang Minang wajib bertanggung jawab dan ikut memikirkan terhadap kampungnya,” jelas Firdaus.
Ikatan emosional terhadap kampung halaman yang kuat membuat urang Minang perantauan selalu menyumbangkan baik finansial maupun pemikiran terhadap kampung halamannya. Melalui Forum Silaturahim Saudagar Minang (FSSM) ini, seluruh saudagar Minang dari penjuru dunia berkumpul selain dengan misi untuk memperluas jaringan bisnis, memberikan sumbangsih kepada ranah Minang juga menjadi perhatian khusus saudagar Minang.
Sayangnya, karakter saudagar Minang yang cenderung egaliter dan mandiri, membuat saudagar Minang terkesan kurang kompak dan tidak memiliki jaringan yang kuat. Padahal jejaring merupakan kunci kekuatan sebuah bisnis. Untuk itu, pada 2007 Fahmi Idris, Basrizal Koto, Firdaus HB, Chairul Anhar, Johnny Swandi Sjam, Solihin Kalla, Asnawi Bahar, Basril Djabar, Irman Gusman, Rainal Rais, Sutan Zairin Kasim dan Irwan Sjarkawi bergabung untuk membentuk FSSM. Mereka berharap, jejaring yang terbentuk lewat forum ini bakal membentuk sinergi harmonis antarpebisnis Minang. “Kami memediasi supaya semua saudagar bisa saling bersinergi,” kata Firdaus. Nah, sinergi ini bakal mendongkrak kinerja bisnis yang berujung pada membaiknya kesejahteraan dan perekonomian masyarakat pada umumnya.
Sementara itu, kata Irwan, pembentukan forum saudagar Minang bila digerakkan dalam format dan manajemen yang baik akan membawa efek lebih baik. “Sinergi para saudagar, dalam bentuk modal kerja dan pemasaran, akan menciptakan kegiatan ekonomi yang lebih baik dengan intensitas yang lebih tinggi.,” tutur presiden komisaris PT Bakrie & Brothers Tbk. ini. Ia berharap forum silaturahim yang selalu dilaksanakan selepas Idul Fitri ini bisa menjadi ajang transfer of knowledge antarsaudagar yang saling menguntungkan.
Ia menambahkan tidak ada pembatasan skala dan bidang usaha bagi saudagar yang ingin bergabung. Selama si saudagar berasal dari ranah Minang, semua boleh bergabung. “Jaringan yang kuat tak akan pernah berhasil bila membatasi diri atau bersifat eksklusif.” tegas Irwan. Keberagaman ini justru akan menguntungkan sebelum terbentuknya kerjasama bisnis.
Salah satu contoh kegiatan digagas oleh Irman Gusman, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) periode 2004-2009 yang juga turut membidani lahirnya FSSM. Pria kelahiran Padang Panjang 11 Februari 1962 ini akan mengundang sejumlah saudagar Minang untuk hadir dalam acara World Economic Islamic Forum (WIFE) 2009. “Acara tersebut akan dihadiri kepala negara dari berbagai negara, pemerintah dan pengusaha-pengusaha. Ini adalah kesempatan bagus untuk memperluas jaringan,” imbuh pria yang menggondol Master of Business (MBA) dari University of Bridgeport, Connecticut, AS ini.
Firdaus menambahkan ada beberapa hal yang akan dilakukan FSSM untuk memberikan kontribusi pada ranah Minang. “Target selanjutnya adalah membentuk jaringan kerja definitif di setiap provinsi,” kata direktur utama PT Kumala Wandira, sebuah perusahaan konstruksi. Maret lalu, Fahmi Idris, Ketua Penggagas sekaligus Dewan Pembina FSSM Pusat, mengukuhkan pendirian FSSM Riau.
Pemuda Sekarang Ogah Jadi Saudagar
Tentu saja, sebuah forum tak akan bermanfaat jika kegiatannya hanya kumpul-kumpul saja. Itu sebabnya FSSM membentuk pusat pendidikan bisnis, klinik bisnis, dan konsultasi kewirausahaan. Hal ini terinspirasi oleh tingginya jumlah pengangguran di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat. Menurut data per 2007, ada 22.973 sarjana belum memiliki pekerjaan. Selain itu, FSSM juga merisaukan minimnya minat entrepreneurship dari pemuda Minang masa kini. Menurut survei yang digagas Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sumbar pada 2006, sebanyak 74% pemuda Minang justru memilih menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). “Kami berharap pelatihan entrepreneurship ini bisa menumbuhkan motivasi dan menginspirasi pemuda untuk menjadi pengusaha,” ungkap Irwan Sjarkawi.
Memang, membangkitkan kembali semangat berdagang pada generasi muda bukan perkara mudah. Namun, Irwan optimis proses pembinaan ini akan terus meningkat setiap tahunnya. Hingga saat ini, pelatihan ini telah menunjukkan hasil yang cukup bagus. Jumlah sarjana pengganggguran menurun dari 26.000 orang (2006) menjadi 22.973 orang. Irwan berharap, melalui berbagai pelatihan kewirausahaan yang diadakan oleh FSSM ini, dalam jangka waktu 8 tahun, angka ini terus menurun hingga menjadi kurang dari 5.000 orang.
Tidak hanya menyumbang secara finansial. Dalam rencana program kerja FSSM ini akan memediasi, memberikan konsultasi dan fasilitasi pembiayaan usaha mikro, kecil dan menengah). Namun, hingga saat ini berbagai program tersebut masih dalam tahap penggodokan. Umur FSSM yang masih seumur jagung, masih banyak yang harus dibenahi dan diatur agar dapat mengakomodasi tujuan awal berdirinya FSSM ini, sesuai slogan dari saudagar, oleh saudagar, untuk masyarakat ranah dan rantau.
Wrote by Atta, edited by me ;)
No comments:
Post a Comment